Chaplain

Renungan 31 Mei 2020

Datanglah Ya Roh Kudus

(Sapaan dari Uskup Agung Sydney)

Rahmat Pentakosta (Kis 2:1-11) mengubah para murid untuk selamanya dalam tataran cara mereka berpikir, berbicara dan berelasi. Para nelayan yang tadinya ketakutan yang mengunci diri di ruang tertutup dengan berani menjadi pembawa kabar gembira dan  memberi saksi tentang hidup dan iman mereka. Kisah Pentakosta adalah cerita tentang kekuatan roh.

Dalam suasana pandemi COVID-19, komunitas kita telah menanggapi dengan penuh tanggungjawab. Fokus dari pemimpin politik kita lebih pada masalah fisik dan keamanan. Tetapi bagaimana dengan masalah persahabatan, intimasi, makna dan tujuan hidup? Hal-hal di atas mungkin asing bagi para petugas kesehatan. Namun seraya dilonggarkannya lockdown, manusia memiliki kebutuhan-kebutuhan yang sifatnya spiritual juga.

Tidaklah cukup jika kita membatasi COVID-19 hanya pada masalah kesehatan saja. Jika kita kesepian, kawatir, berduka dan secara rohani “kering”; jika kita tidak mendapatkan pelukan dari anggota keluarga dan jabat tangan dari teman-teman, mungkin secara fisik kita sehat tetapi  tidak demikian secara psikis dan spiritual. Turunnya Roh Kudus mengingatkan kita bahwa karantina dan stimulus finansial tidaklah cukup dan terlebih dalam suasana krisis. Kita membutuhkan cinta kasih dan hal-hal yang suci…

Di dalam kedalaman diri kita ada seruan, “Datanglah ya Roh Mahakudus”. Seruan doa ini ada di dalam inti kehidupan kita. Jiwa kita tercipta untuk menggapai yang ilahi, hati kita berbicara dengan Hati Kudus, diri kita diinspirasi oleh-Nya. Karena kita, seperti Allah, adalah makluk spiritual. Dan seperti Yesus kita juga makluk bertubuh juga. Kita lebih dari sekedar tubuh dan uang, walaupun itu sangat penting . Adalah jiwa yang memimpin tubuh, yang membuat kita menjadi makluk yang hidup. Adalah jiwa kita yang memiliki kesadaran, rasio dan kebebasan, yang memampukan kita menjadi kreatif dan memenuhi kebutuhan. Karena kita memiliki jiwa maka kita tetap hidup setelah kita mati.

Dalam Injil yang akan dibaca pada Hari Minggu Pentakosta (Yoh 20:19-23), Yesus memutus rantai isolasi dan distancing dan bergabung dengan para murid yang kesepian, dalam kehadiran fisik. Dan bahkan membiarkan mereka melihat dan menyentuh tangan dan lambungnya. Namun sebelumnya Dia bersabda, “damai sertamu”. Damai, shalom, Tuhan sertamu. Ia menghembusi mereka dengan Roh damai dan kehadiran pada mereka. Pada hari Pentakosta, Roh Kudus datang untuk menghangatkan hati yang membeku, menyemangati jiwa yang lesu, membakar semangat untuk mencintai Tuhan dan melayani sesama. Dan dengannya mereka mewartakan Injil ke seluruh dunia. Kita berdoa kepada Roh yang sama dalam situasi kita sekarang ini. 

Catatan Permenungan Chaplain

Selama masa Corona ini saya banyak syering dengan umat pada hari Selasa sore. Namanya Tuesday with Moto. Minggu lalu kami syering dengan topik Berkeluarga/Imamat 1 Tahun, 10 Tahun dan 20 Tahun. Walaupun namanya Tuesday with Moto, kenyataannya saya lebih banyak belajar dari umat CIC itu. Dan ternyata semakin bertambah usia,  keluarga ditantang untuk bertumbuh, naik tingkat dalam kebijaksanaan, semakin luas dalam bakti kepada Tuhan dan sesama.

Saya disadarkan bahwa hidup beriman juga harus bertumbuh. Yesus juga menginginkan agar kita bertumbuh. Agar iman bertumbuh Yesus meninggalkan murid-muridnya secara fisik dan naik ke Surga. Ketika masih bersama para murid, Yesus menjaga mereka sehingga senantiasa aman. Dengan meninggalkan para murid, maka para murid dipaksa bertumbuh. Mereka membentuk komunitas rasuli, membangun struktur pelayanan dan ibadat yang buahnya kita nikmati sampai hari ini. Para murid bertumbuh pesat dalam iman dan kepribadian justru setelah ditinggalkan oleh Yesus secara fisik.

Berpisah dengan Yesus secara fisik tidaklah sama dengan ditelantarkan. Yesus mengutus Pribadi Ketiga dalam Allah Tritunggal. Dialah Roh Kudus. Dialah yang akan menyertai Gereja. Dia menyertai Gereja sampai akhir zaman.

Sapta (7) Karunia Roh Kudus adalah:

  • Kebijaksanaan
  • Pengertian
  • Nasehat
  • Keperkasaan
  • Pengenalan Akan Allah
  • Kesalehan
  • Takut akan Allah

12 Buah Roh Kudus

  • Kasih
  • Sukacita
  • Damai Sejahtera
  • Kesabaran
  • Kemurahan
  • Kebaikan
  • Kesetiaan
  • Kelemahlembutan
  • Penguasaan Diri
  • Kerendahan Hati
  • Kesederhanaan
  • Kemurnian

Walaupun Roh Kudus bekerja dengan kuasa saat Dia menghendaki, namun akan lebih mudah bagi kita kalau kita menyiapkan tanah yang subur dalam hati kita agar Roh Kudus semakin bebas berkarya. Kita diundang untuk Mempersembahkan dan menguduskan diri kepada Karya Roh  Kudus.

            Beberapa cara agar hati kita semakin subur bagi berkaryanya Roh Kudus antara lain: Bacaan rohani, terutama membaca kisah santo dan santa, hening dan meditasi, menndegarkan dan merenungkan firman Tuhan, dan lain-lain. Tentu bukan banyaknya cara, tetapi konsistensinya. Sebagai biarawan MSC, yang saya lakukan adalah berdoa sederhana sebelum tidur:

Ave admirabile, Cor Jesu, Te laudamus. Te benedicimus. Te glorificamus. Tibi gratias agimus. Tibi cor nostrum oferimus, donamus et consecramus. Accipe et posside illu totum. Purifica, Illumina et santifica. Ut im ipso vivas, et regnes in perpetuum. Amen.

Terjemahannya:

Salam ya Hati Yesus terpuja.
Kami puji dan luhurkan Dikau. Kami memuliakan dan bersyukur kepadaMu.
Kami unjukkan hati kami, kami berikan dan tahbisakan kepadamu. Terimalah dan milikilah segenapnya. Murnikanlah, terangilah dan kuduskanlah. Agar Engkau hidup dalamnya bertahta kekal. Amin.

Berjarak di mata namun dekat di hati.
Saudaramu dalam Tuhan,
Petrus Suroto MSC . Chaplain.