Chaplain

Renungan 29 Maret 2020

AKULAH JALAN KEBENARAN DAN HIDUP

Para Umat CIC jauh dimata dekat di hati, Para saudara yang karena Corona Virus tidak bisa ke Gereja Minggu ini.

Saat saya mengunjungi orang sakit, kata yang sering saya dengar adalah, “Mengapa harus saya, Romo, yang mendapatkan kesakitan ini”. Dan saya hanya diam, hening dan mengajak berdoa. Penyakit dan kematian tetaplah menjadi misteri. Manusia bergumul dengan penyakit, seperti yang sekarang kita hadapi dan rasakan. Kematian juga sukar dihindari jika saatnya sudah tiba. Namun dalam Yesus kita memperoleh kesempatan untuk untuk memberi makna baru, yaitu untuk menikmati kasih Bapa yang lebih dalam daripada sakit dan kematian. Namanya Kebangkitan.

Akulah Jalan

Saya sangat tergoda untuk membeli T-Shirt dengan cetakan OWESOME 50 YEARS. Kata itu sangat membekas karena hidup adalah perjalanan. Perjalanan waktu. Dan dalam perjalanan itu saya selalu melihat banyak keindahan. Keluarga, teman-teman dan umat. Saya selalu diberkati karena selalu dikelilingi orang-orang yang baik. Saya mengalami banyak tuntutan, tantangan dan kesulitan dalam hidup. Namun selalu saja ada pertolongan.

Para saudara, dalam hidupmu janganlah melekatkan diri pada hal-hal negatif. Rasa sakit hati, tidak suka pada seseorang, pengalaman trauma. Tentu itu manusiawi untuk merasa marah, kecewa dan sedih. Namun jangan melekat. Rasakan pengalaman pahit itu dan biarkan dia pergi. Jangan disimpan di hati. Sebaliknya janganlah melewatkan hal-hal yang indah yang tersembunyi dalam hal-hal sederhana. Syukuri dan ingatlah: saat seseorang membuatkanmu kopi dan memberikan dengan senyum, melihat dari jendela dan udara cerah, orang-orang yang membantumu dengan tulus. Syukurilah kalau ada yang mengkritikmu, karena mereka peduli padamu. Jika ada orang yang membuatmu merasa marah dan kecewa, doakan dia dengan sederhana. Mendoakan orang yang sikapnya tidak kita sukai membuat hati kita damai dan menghapus perasaan negatif.

Waktu aku masih muda, saya memandang hidup saya sangat muram. Pengalaman dibully saat masih kecil sampai tidak berani sekolah, diejek dan direndahkan. Namun dalam bimbingan rohani, Pater pembimbing saat mendengarkan kepahitan hidupku, berkata: hidup itu bahagia atau tidak tergantung cara mata kita melihat. Dan sejak saat itu saya lebih suka melihat yang baik daripada yang jahat. Yang kurang baik saya lihat juga, tetapi saya tidak peduli. Yang baik saya ingat dan syukuri. Dan hidupku berubah.

Bagaimana dengan Coronavirus? Takut dong. Tapi percaya. Bahwa Tuhan mengasihi kita. Dengan caraNya Dia akan memelihara kita dengan cara yang lebih tinggi dari kemampuan pemahaman kita. Dan dalam kewaspadaan, kita tetap melihat berbagai kebaikan yang diberikan Tuhan. Saat hening, bercanda dengan teman serumah, minum anggur lebih banyak karena tidak driving… Indahkan? Saya takut dan waspada terhadap viruscorona, tetapi saya tidak membiarkan dia menelikung saya dengan ketakutan dan kecemasan.

Akulah Kebenaran

Saat belajar Filsafat saya banyak merenung apa itu kebenaran. Dan tidak ketemu, sampai saya putuskan, Yesuslah Sang Kebenaran Sejati. Namun bagaimana menggapainya?

Paulus dalam Bacaan kedua menantang bahwa dalam jalan hidup kita ada dua pilihan. Hidup menurut daging atau hidup menurut Roh (Rm 8:8-9). Hidup menurut daging berarti memuaskan setiap hasrat keinginan tak teratur, tabiat dosa yang ada dalam diri kita. Menyenangkan pada awalnya, menyengsarakan kemudian. Sedangkan orang yang hidup menurut Roh, berarti mendengarkan , mencari dan tunduk pada bimbingan Roh Kudus sendiri. Maka hidup yang adalah perjalanan itu seperti menghadapi banyak persimpangan-persimpangan. Kadang kita memilih yang benar karena mengikuti Roh, kadang kita memilih secara salah karena mengikuti daging. Masalahnya, tandanya tidak jelas. Yang kita sangka menurut Roh ternyata dari daging: cinta diri, kesombongan dan lain-lain. Maka kita perlu untuk sering hening dan mendengarkan Suara-suara dalam hati dan membeda-bedakan. Dan kita akan segera tahu bahwa hidup cara kedagingan itu seperti virus yang menelusup keinginan baik kita. Misalnya kita menjadi kecewa dan benci saat pelayanan kita yang kita lakukan dengan sungguh-sungguh, ternyata tidak dihargai.

Kesempatan tinggal di rumah, tidak banyak yang bisa dilakukan di luar rumah sangat menyesakkan. Apalagi rumah tinggal di apartemen dengan dua kamar dan banyak orang. Ada banyak suara dalam hati: bosan, tertekan dan berbagai ingatan negatif muncul. Tapi, teman-temanku yang baik, ini juga kesempatan emas untuk retret pribadi dan mendengarkan hatimu. Memilah-milah suara yang ada dalam hatimu. Mendengarkan suara-suara dalam hati, tapi kemudian membiarkan diri dipimpin oleh Suara Roh Kebenaran.

Membiarkan diri dipimpin Roh itu misalnya ketika kita harus di rumah. Kita rindu untuk bertemu dengan teman sambil BBQ. Ini hal yang baik. Tapi karena kita dalam suasana pagebluk viruscorona, kita tidak menuruti keinginan itu. Bertemu dengan teman itu baik, tetapi menjaga kesehatan dan keselamatan itu lebih baik dan lebih tinggi. Dan sebagai ganti kita menyapa atau mendoaakan dengan doa pendek. 

Akulah Hidup

Setiap kali saya telpon Ibu saya saat-saat coronavirus ini, dia berulang-ulang, walau tidak bisa menyembunyikan kecemasan, berkata “Wis, pokoknya hanya Tuhan Mahakuasa. Bukankah Credo mulai dengan Aku percaya akan Allah Bapa yang mahakuasa?”. Amin.

Walaupun ilmu pengetahuan sudah sangat maju, tetapi ada saja yang tidak bisa kita kontrol. Viruscorona mengingatkan itu. Maka kita harus tetap berpegang pada Dia yang bisa mengubah kematian menjadi hidup, yang berkuasa memberikan kehidupan kekal. Dialah Boss kita yang sejati. Dan Thanks God, Dia boss yang baik, penuh kasih sampai mengeluarkan air mata untuk sahabatnya, dan murah hati memberikan kehidupan kekal.

Maka mari kita bernyanyi dalam hati, “Pada Tuhan (Yesus) ada kasih setia dan penebusan berlimpah” (Mz 130:7).

Saudaramu dalam Tuhan, yang sekarang harus di rumah.

Fr. Petrus Suroto MSC