Chaplain

Renungan 12 Januari 2020

BELAJAR DARI UMAT (1)

Sebagai seorang imam yang sudah 20 tahun bekerja untuk Gereja, saya banyak belajar dari umat yang saya layani. Mereka menjadi guru kehidupan bagi saya. Mereka memberi pemahaman tentang hidup, yang tidak bisa langsung jelas saat dipelajari dari bangku kuliah. Saya mencoba untuk menuliskan “kebijaksanaan hidup”  apa saja yang  saya pelajari dari umat yang pernah atau sementara saya layani.

Pengampunan

Sebut saja namanya Feifei. Dia dilahirkan sebagai anak ketiga dari sembilan bersaudara. Orangtuanya mendidik dengan keras. Sejak kecil dia sudah dibiasakan bekerja. Sudah sedari SD kelas tiga, dia sekolah Siang. Pagi-pagi dia berkeliling kampung menjajakan kue dengan tampah, yaitu keranjang yang bulat dan harus ditaruh di kepala. Kalau hari Minggu, jualannya lebih banyak sehingga satu tangan masih membawa keranjang. Jika pulang dan jualannya tidak habis, maka papanya akan memukul kakinya dengan rotan. Kerjaannya tidak habis di situ, tetapi sesudah itu masih menjual tahu yagn dijajakan keliling kampung. Setelah itu dia masih membantu di tetangga yang membuat es, baru pergi ke Sekolah Siang.

Sepulang Sekolah dia menjaga adik-adiknya. Karena orangtuanya berkekurangan, jika ingin melihat tv, dia mengajak adik-adiknya melihat tv di rumah tetangga. Dan sering tetangganya tidak memperbolehkan masuk rumah, mereka harus melihat dari celah-celah jendela.

Pernah kakaknya dituduh tetangga mencuri cincin emas. Papanya yang malu, menghajar mereka sampai lebam. Bahkan kakak laki-lakinya diikat kaki di atas kepala dibawah dan dihajar sampai benjol-benjol. Sangat traumatik walau sekedar melihatnya. Dan ternyata cincin itu tidak hilang. Dan tetangga itu memberitahu tanpa ada rasa bersalah. Betapa sakit hati pada tetangga itu.

Feifei harus berhenti Sekolah sewaktu di SMP karena tidak ada biaya untuk bersekolah. Dia bekerja dan menabung uangnya, dan dipakai untuk membantu Mamanya yang punya utang di rentenir. Dia melunasi hutang Mamanya. Walaupun dia tidak Sekolah, tetapi berkat keuletannya Feifei sangat sukses di dalam hidup. Hidupnya yang keras menempanya untuk tidak mudah menyerah.

Ketika mengenang masa lalu yang semestinya pahit, Feifei melihatnya dengan cara berbeda. Dia melihat masa lalunya sebagai hidup yang menarik. Waktu kecil dia banyak tertawa dan bertemu dengan banyak orang. Dia juga punya uang sendiri yang dipakai untuk membayar uang Sekolah. Sebagai orang Tionghoa, dia dipandu oleh budayanya untuk tetap menghormati orangtuanya.

Memang ada “luka batin”dengan papanya. Ketika ikut retret, dia bersimbah air mata, ketika mengenang akan kepahitan hidup bersama Papanya. Dan dihantar kepada pengampunan. Hebatnya, pengampunan itu tidak berhenti hanya dalam upacara. Tidak berhenti saat hatinya terasa lega. Tetapi dipraktekkannya di rumah. Dia merawat papanya saat sudah tua di rumahnya. Dia ingin membahagiakan orangtuanya. Diajak jalan-jalan ke banyak tempat, dan dia sendiri yang mengendarai mobil.

Saat berdua dengan Papanya, dia sering mengelus-elus tangan Papanya yang dulu sering memukulnya. Dan dengan cara itu dia bisa menerima masa lalunya dengan damai dan penuh penerimaan. Dia tidak menyimpan rasa sakit hati, apalagi dendam. Dia menyayangi Papanya bukan karena kewajiban, tetapi tulus dari hati. Para tetangga yang dulu menutup pintu dan jendela saat dia kecil, tetap dia bantu saat mereka sangat memerlukan bantuan.

Sikap mengampuni terbawa dalam dunia bisnis. Dia sangat baik dengan karyawannya, sehingga mereka krasan. Rata-rata karyawannya sudah bekerja dengannya lebih dari 20 tahun. Karyawan yang sedikit tahu berapa sebenarnya keuntungannya, kadang mengantakan, “Ci, jangan banyak-banyak memberi bonus”. Saat umurnya 40 tahun, bisnisnya dipercayakan kepada para karyawannya. Dia sendiri lebih banyak memberi waktu untuk kegiatan Gereja. Dia anggota legio Maria, ketua Lingkungan dan sekarang anggota Dewan Paroki. (Tidak ada yang tahu kalau dia itu hanya lulus SMP). Dia sering bilang kepada saya, “Saya tahu susahnya hidup. Maka saya selalu ingin membantu orang lain. Tuhan memberkati saya dengan anak-anak yang baik. Saya tidak perlu menasihati atau mengawasi mereka. Tidak semua orang beruntung seperti saya”. Ketika megatakan itu, matanya berkaca-kaca.

Pengalaman Feifei diatas membuka mata pemahaman saya. Bahwa luka batin sebenarnya tidak bisa sembuh benar dan sudah terlanjur ada di dalam pengalaman kita. Yang membedakan adalah “disposisi batin”. Maksudnya, hidup sesusah apapun, jika dilihat dengan kacamata yang positif, tetap menebarkan banyak kebahagiaan. Mengampuni bukan masalah saya memiliki luka dan membersihkannya sampai tidak ada sisa. Tetapi, pengampunan itu seperti  gugus batin untuk tetap menjadi baik dan damai, bahkan untuk mereka yang pernah sangat menyakiti kita.

Disposisi batin yang baik membuat “your past doesn’t define your future’’. Karena pada banyak orang lain, luka batin menjadi mental block bagi mereka untuk bahagia. Dia tidak bisa menerima keterlukaannya dan bersikap dendam dan membenci mereka yang pernah menyakitinya.

Pelajaran dari umat ini sangat membantu saya dalam pelayanan, terutama ketika saya bekerja sebagai pembina calon Imam di Pranovisiat MSC. Ketika saya mendampingi peserta bina dalam proses penyembuhan luka batin, atau juga retret untuk para Suster, atau bimbingan rohani untuk para frater Dosesan, pemahaman ini banyak sekali membantu mereka untuk tetap menjadi damai dan baik, kendati pernah mengalami pengalaman keterlukaan.

Saudaramu dalam Tuhan,

Pst. Petrus Suroto MSC