Chaplain

Renungan 10 November 2019

PURGATORY

Apa itu?

Purgatory berasal dari kata Bahasa latin, purgatorium, yang berarti api penyucian. Kata ini menunjuk kepada tempat atau proses bagai orang yang sudah meninggal untuk menjalani penyucian atau pemurnian. Gereja Katolik mengajarkan hal ini di dalam Katekismus Gereja Katolik # 1030-1032, yang dapat disarikan sebagai berikut:

1) Api Penyucian adalah suatu kondisi yang dialami oleh orang-orang yang meninggal dalam keadaan rahmat dan dalam persahabatan dengan Tuhan, namun belum suci sepenuhnya, sehingga memerlukan proses pemurnian selanjutnya setelah kematian.

2) Pemurnian di dalam Api Penyucian adalah sangat berlainan dengan siksa neraka.

3) Kita dapat membantu jiwa-jiwa yang ada di Api Penyucian dengan doa-doa kita, terutama dengan mempersembahkan ujud Misa Kudus bagi mereka.

Apakah Purgatory ada di dalam Kitab Suci?

Banyak orang yang tidak setuju dengan adanya purgatory karena tidak ada  di dalam Kitab Suci. Memang benar bahwa kata purgatory tidak ditemukan di dalam Kitab Suci, sebagaimana kita juga tidak menemukan kata Trinitas atau Inkarnasi. Namun refleksi iman tentang Purgatory bersumber dan berdasar kepada Kitab Suci.

Ingrid Listiati, seorang theolog awam  di Katolisitas.org, menulis, antara lain, saya kutip:

  1. “Tidak akan masuk ke dalamnya [surga] sesuatu yang najis” (Why 21:27) sebab Allah adalah kudus, dan kita semua dipanggil kepada kekudusan yang sama (Mat 5:48; 1 Pet 1:15-16). Sebab tanpa kekudusan tak seorangpun dapat melihat Allah (Ibr 12:14). Melihat bahwa memang tidak mungkin orang yang ‘setengah kudus’ langsung masuk surga, maka sungguh patut kita syukuri, bahwa Allah memberikan kesempatan pemurnian di dalam Api Penyucian.
  2. Keberadaan Api Penyucian diungkapkan oleh Yesus secara tidak langsung pada saat Ia mengajarkan tentang dosa yang menentang Roh Kudus, “…tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak.” (Mat 12:32) Di sini Yesus mengajarkan bahwa ada dosa yang dapat diampuni pada kehidupan yang akan datang. Padahal kita tahu bahwa di neraka, dosa tidak dapat diampuni, sedangkan di surga tidak ada dosa yang perlu diampuni. Maka pengampunan dosa yang ada setelah kematian terjadi di Api Penyucian, walaupun Yesus tidak menyebutkan secara eksplisit istilah ‘Api Penyucian’ ini.

Keadilan Tuhan

Hal lain yang perlu kita pertimbangkan adalah Allah itu selain Mahamurah juga Maha Adil. Maka di dalam pengalaman kita, selalu saja ada konsekuensi yang ditanggung oleh manusia, jika ia berdosa terhadap Allah, meskipun Allah telah memberikan pengampunan. Kita melihat hal demikian, misalnya, pada Adam dan Hawa, setelah diampuni dosanya, diusir dari taman Eden (Kej 3:23-24). Raja Daud yang diampuni oleh Allah atas dosanya berzinah dengan Betsheba dan membunuh Uria, tetap dihukum oleh Tuhan dengan kematian anaknya (lihat 2 Sam 12:13-14). Nabi Musa dan Harun yang berdosa karena tidak percaya dan tidak menghormati Tuhan di hadapan umat Israel akhirnya tidak dapat masuk ke tanah terjanji (Bil 20:12).

Dalam pengalaman hidup, kita juga menemukan yang serupa. Misalnya ketika kita sudah bersalah kepada orang lain, walauapun kita sudah minta maaf dan sudah diberi maaf, tetapi membutuhkan proses pemuliahan. Demikian juga ada konsekwensi dari dosa-dosa yang kita lakukan saat kita masih hidup di dunia.

Apakah Para kudus Mengajarkannya?

Para Kudus dari abad-abad awal kekristenan sudah mengajarkannya. Sebagai contoh, St. Agustinus (354-430) mengajarkan, bahwa hukuman sementara sebagai konsekuensi dari dosa, telah dialami oleh sebagian orang selama masih hidup di dunia ini, namun bagi sebagian orang yang lain, dialami di masa hidup maupun di hidup yang akan datang; namun semua itu dialami sebelum Penghakiman Terakhir. Namun, yang mengalami hukuman sementara setelah kematian, tidak akan mengalami hukuman abadi setelah Penghakiman terakhir tersebut.

Konsekwensi Imannya

Mari kita bawa saudara-saudara kita yang sudah meninggal dalam doa-doa kita terutama pada bulan November. Salah satu bentuk doa yang dianjurkan adalah memintakan ujud misa.

Saudaramu dalam Tuhan,

Fr. Petrus Suroto MSC