MEMULIAKAN ALLAH DALAM PENDERITAAN

by | Mar 17, 2024 | Chaplain | 0 comments

Yoh 12: 20-33

Umat CIC Sydney ytk,

Memuliakan Allah merupakan panggilan hidup manusia. Manusia diciptakan untuk kemuliaan Allah (Yes. 43:7), dan manusia diperintahkan untuk memuliakan Dia (Mzm. 22:24; Yes.42:12). Di dalam keadaan lancar, tidak sulit untuk menjalankan panggilan untuk memuliakan Allah. Bagaimana jika sedang menghadapi penderitaan? Apakah dalam situasi yang sulit itu kita masih dapat memuliakan Allah?

Tema hari Minggu prapaska V ini adalah: “MEMULIAKAN ALLAH DALAM PENDERITAAN”. Tema itu setidaknya mengajak kita berpikir dua hal. Pertama, memuliakan Allah di tengah penderitaan yang dialami. Kedua, rela mengalami penderitaan untuk memuliakan Allah.

Tuhan Yesus rela mengalami penderitaan untuk memuliakan Allah. Ia tahu bahwa ada penderitaan salib yang harus dihadapi, tetapi Ia rela memikulnya, karena Ia tahu bahwa itulah jalan untuk menyelamatkan umat manusia dan memuliakan Allah.Tuhan Yesus menggunakan biji gandum untuk menjelaskan tentang penderitaan dan kematian-Nya. Ia menjelaskan bahwa kalau sebutir gandum tidak ditanam ke dalam tanah dan mati, ia akan tetap tinggal sebutir. Tetapi kalau butir gandum itu mati, baru ia akan menghasilkan banyak gandum.

Ia rela mati untuk memberikan hidup kepada manusia yang mati di dalam dosa. Itu sebabnya Ia tidak meminta Bapa menyelamatkan-Nya dari masa penderitaan itu, tetapi Ia rela menjalaninya. Melalui penderitaan dan kematian-Nya itulah Ia menarik semua orang kepada-Nya dan menyelamatkan mereka.Di dalam penderitaan-Nya pun Tuhan Yesus tetap memuliakan Allah. Tidak ada kata-kata marah, makian atau kutuk yang keluar dari mulut-Nya. Di atas kayu salib Ia justru mengucapkan kata-kata pengampunan, berkat, dan doa.

Umat CIC Sydney ytk,

Apa yang dilakukan Tuhan Yesus hendaknya diikuti oleh setiap orang percaya. Meskipun menghadapi penderitaan, seorang murid Kristus harus tetap memuliakan Allah. Mungkin saja ia akan kehilangan nyawanya oleh karena mengikut Tuhan Yesus, tetapi dalam hal itu ia pun harus tetap teguh dalam iman. Tuhan Yesus berkata: “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal” (Yoh. 12:25).

Pada saat kita mengalami penderitaan karena Kristus, janganlah menyerah. Pandanglah kepada Tuhan Yesus yang telah rela tersalib bagi kita. Penderitaan yang kita alami belum sebanding dengan penderitaan yang telah dialami-Nya.Tuhan Yesus rela menjalani penderitaan untuk menyelamatkan kita dan memuliakan Allah. Di dalam penderitaan Ia masih tetap memuliakan Allah.

Biarlah apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus menguatkan kita untuk tetap memuliakan Allah. Hendaklah kita tetap memuliakan Allah di dalam penderitaan yang kita alami, bahkan rela mengalami penderitaan untuk memuliakan-Nya

Yesus ingin mereka yang menjadi pengikutnya, tentunya kita semua yang sudah dibaptis – mampu menjadi gandum yang mati taat dalam penderitaan, tidak mencari keamanan sendiri, mementingkan diri semata namun berani mengambil resiko dengan penyangkalan diri untuk senantiasa hidup memuliakan Tuhan dan menjadi berkat bagi banyak orang. Semoga kita mampu mengikuti teladan Yesus yang menjadi gandum yang mati menghasilkan buah melimpah dalam ketaatan penderitaan-Nya. Kalau karena mengasihi/mencintai kamu menderita dan terluka, itu bukan penderitaan tetapi itulah cinta kasih. Semoga.

Fr. Agustinus Handoko MSC
Chaplain to the Indonesian Community
193 Avoca St, Randwick NSW 2031

Kategori