Kisah Sekitar COVID-19

by | Jul 2, 2021 | Chaplain | 0 comments

Umat Katolik itu luar biasa. Saya banyak belajar dari mereka.

Dokter Bagas umurnya masih muda, 26 tahun. Setelah menyelesaikan pendidikan, dia memilih untuk bekerja di Rumah Sakit Umum di kota kecil (sorry saya tidak menyebut namanya). Dia bekerja keras melayani pasien, yang kebanyakan terpapar virus Covid-19. Rumah sakit sangat penuh. Para dokter dan perawat bekerja sangat keras untuk melayani para pasien. Mereka berlomba dengan waktu sampai-sampai sering lupa makan.

Dr. Bagas pun sempat tertular virus Covid-19 dan dirawat dengan sangat intensif di Rumah Sakit tempat dia bekerja. Situasinya tidak baik.

Ibunya sangat stress dan khawatir karena melihat bahwa Rumah Sakit begitu penuh dengan orang sakit. Mobil ambulance pun datang dan pergi dengan sirine meraung-raung. Dia ingin membantu dengan memenuhi kebutuhan makanan bergizi untuk anaknya yang sakit. Maka dia  meminta tolong, sebut saja Anastasia, yang memiliki usaha catering, untuk mensuplai makanan bergizi untuk anaknya di  rumah sakit. Anastasia ini, yang sebenarnya pendidikannya dokter, membuat menu makanan yang bergizi tinggi. Dan bekerjasama dengan pihak rumah sakit mensuplai makanan untuk dokter Bagas. Pada akhirnya dokter Bagas memperoleh kesehatannya kembali.

Dr. Bagas mendapati teman dokternya juga terpapar dengan Covid sesudah dirinya sembuh. Ia pun meminta tolong kepada Anastasia agar bisa men-supply makanan kaya gizi untuk dokter yang terkena Covid seperti ketika ia dulu dirawat. Anastasia pun setuju.

Saat Ibu dari dokter Bagas datang untuk membayar harga makanan, Anastasia menolak keras. Bersama Aloysius suaminya, dia ingin memberikan bantuan makanan bergizi tinggi kepada para dokter dan perawat yang terkena Covid-19. “Kalau para dokter dan perawat yang terkena Covid cepat sehat kembali, mereka akan bisa menolong para pasien Covid-19”. Mereka bahagia kalau bisa terlibat di dalam hal-hal yang baik. Dia punya ide untuk membantu makanan bergizi untuk dokter dan perawat yang sakit, berkordinasi dengan pihak Rumah Sakit. Idenya itu didukung juga oleh saudara-saudaranya yang lain yang akan mendukung dengan pendanaan.

Saya jadi ingat, saudara kandung suami Anastasia, seorang pastor Katolik, meninggal tahun lalu karena Covid.

Sembari menulis ini, air mata saya menetes haru. Saya mengenal mereka semua, saat jadi pastor bantu di paroki Hati Kudus Yesus Tegal dan pastor Stasi Santa Maria Fatima, Brebes. Kami dulu, di tahun 2000-an, sering minum teh poci di alun-alun Kota sambil mencari ide untuk memperkembangkan Stasi Brebes (Sekarang Paroki Brebes). Bahkan dokter Bagas adalah teman saya bermain game dan tebak-tebakan, karena waktu itu umurnya masih 6 tahunan. Kini mereka tetap bertumbuh menjadi orang Katolik yang baik, selalu mencari celah-celah bagaimana bisa membantu sesama.

Terimakasih teman-temanku semua. Terimakasih untuk mengizinkan saya menceritakan ini. Semoga menguatkan dan menginspirasi umat Katolik yang sekarang saya layani di kota Sydney.

Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus. (Gal 6:2)

Saudaramu dalam Tuhan,
Pst. Petrus Suroto MSC

Kategori