Chaplain

Renungan 26 Januari 2020

BELAJAR DARI UMAT (3)

Sebagai seorang imam yang sudah 20 tahun bekerja, saya banyak belajar dari umat yang saya layani. Mereka menjadi guru kehidupan bagi saya. Mereka memberi pemahaman tentang hidup, yang tidak begitu saja jelas dari bangku kuliah. Saya mencoba untuk menuliskan “kebijaksanaan hidup”  apa saja yang  saya pelajari dari umat yang pernah atau sementara saya layani.

SEDERHANA ATAU HEMAT?

Kisah berikut ini tidak menunjuk kepada seseorang sebagai pribadi, tetapi sebagai rekonstruksi dari beberapa perilaku umat.

Sederhana

Namanya Joseph. Dia seorang guru SMA. Dia sangat berdedikasi dalam pekerjaannya. Pelajaran disiapkan dengan sangat baik. Meja kerjanya sangat rapih karena dia tidak menaruh barang selain yang berhubungan dengan pekerjaannya, kecuali salib kecil, jam dan botol minuman.

Komputer laptopnya sangat cepat dan responsif. Bukan karena baru dan mahal tetapi karena programnya sangat sedikit. Tidak ada game, tidak ada aplikasi-aplikasi yang di luar pekerjaannya. Dan komputer itu sudah dipakai lebih dari 8 tahun.

Pulang ke rumah dia mengendarai sepedamotor. Sangat bersih karena dia akan melap dengan kain sebelum dia pakai. Sesampai di rumah, dia akan bekerja tangan mengurus kebun, ayam piaraan dan kolam. Jam 5 sore akan kembali bekerja karena di paroki dia selalu menjadi bendahara. Di Desa, dia juga menjadi bendahara karena terkenal sangat jujur dan laporannya rapih. Selain itu dia juga menjadi katekis dan prodiakon. Dia suka mengajar. Anak-anak sekolah sering datang ke rumah karena dia guru matematika, dan ia tidak pelit untuk berbagi ilmu.

Rumahnya tiga kamar. Ruang tamunya walaupun tidak besar tetapi terasa lapang dan sangat rapih karena tidak memiliki banyak barang. Kalau ada tamu datang dia akan menyuguhi teh hangat. Hiburan di rumah cuma TV. Setelah jam 9 biasanya dia bersih-bersih diri dan akan nonton TV dengan istrinya. Kadang-kadang istrinya cerita tentang pengalaman hari itu. Tetapi kebanyakan mereka diam-diam saja. Kadang-kadang istrinya tidur di pangkuannya sambil baca buku.

Dia baru sekali ke luar negeri, yaitu berziarah ke Lourdes. Saat libur dia kebanyakan cukup pergi ke daerah wisata dekat rumahnya. “Yang penting bukan jauhnya, tetapi kita bisa menikmati waktu” katanya. Dia tidak pernah atau tidak tahu mencari tiket yang murah.  Walau gajinya tidak banyak, tetapi dia merasa berkecukupan. Karena memang tidak banyak keinginan dan kebutuhannya.  Dan ketika ada yang perlu ditolong, dia menyumbang cukup besar. Setiap bulan lebih dari 10% pendapatannya disisihkan untuk menolong sesama.

Saya merasa orang semacam Joseph inilah yang dipuji Kitab Suci, berbahagialah yang miskin di hadapan Allah, berbahagialah yang suci hatinya (Bdk. Matius 5:3.8)

Hemat

Antonius tahu benar mengatur uang. Dia bisa berlibur ke Singapore, Thailand, dan Sydney hanya dengan tiket seharga $ 600 dolar. Dia tahu caranya berhemat. Maka dia pernah pergi ke penjuru dunia dalam liburannya. Rumahnya penuh barang karena membeli banyak lebih murah dibandingkan dengan membeli sedikit. Setiap kali ada kata discount, dadanya berdegub dan ingin membeli. Ruang tamunya terasa sempit dan menghimpit, karena perabotnya besar-besar. Dia selalu pulang membawa cenderamata dari banyak belahan dunia sehingga lemarinya tidak mampu menyimpannya. Belum lagi koleksi sepatu dan jam tangannya.

Dia tahu banyak restaurant. Dan tahu bagaimana caranya mendapatkan discount. Aplikasi untuk mendapatkan tempat tinggal yang murah. Hand phonenya yang canggih menjadi lemot karena dia menjadi anggota begitu banyak WA group.

Antonius banyak membantu saya, terutama saat ingin membeli barang atau bepergian. Dia tahu the best price.

Discern

Dari umat saya bisa belajar untuk discern, atau memilah-milah dan membeda-bedakan. Bahwa ternyata bersikap sederhana berbeda dengan bersikap hemat. Orang sederhana datangnya dari dorongan hati. Memang tidak ada banyak keinginan dari hatinya. Belajar dari saudara yang beragama Budha, keinginan adalah sumber dari sengsara. Orang yang sederhana umumnya bersikap, non multa sed multum. Bukan banyaknya hal yang dia kerjakan tetapi kedalaman dan kesungguhan hatinya dalam melakukan tindakannya. Atau mereka sering mengatakan, “Melakukan hal biasa dengan cara yang istimewa”. Karena tidak banyak keinginannya, maka uangnya cukup dan dia tidak perlu berhemat. . Saya merasa orang semacam Joseph inilah yang dipuji Kitab Suci, berbahagialah yang miskin di hadapan Allah, berbahagialah yang suci hatinya (Bdk. Matius 5:3.8)

Orang yang hemat,  bisa menikmati banyak hal dengan cara yang efektif sekali. Umumnya mereka memiliki banyak pengalaman dan perbandingan. Mereka biasanya memiliki pengalaman bepergian ke banyak tempat, dan tahu menikmati hidup.

Mana yang lebih baik?

Saya tentu tidak dalam posisi menilai apalagi menghakimi. Saya hanya belajar untuk membedakannya. Dua-duanya memiliki keunggulannya sendiri. Apakah kita bisa menggabungkan kedua-duanya? Tentu tidak mudah untuk menggabungkan kedua-duanya, karena nilai yang diyakini seringkali tidak seiring bahkan bertentangan. Kalau saya boleh memilih, saya lebih suka memiliki hati yang sederhana. Saya kadang memohon kepada Tuhan supaya dianugerahi sebuah hati yang sederhana. 

Namun jika ada yang mampu untuk menggabungkan, maka dia menjadi orang yang sangat efektif dan sekaligus efisien.

Saudaramu dalam Tuhan,

Pst. Petrus Suroto MSC