Trihari Suci (Triduum) dan Minggu Paskah

by | Mar 17, 2023 | Chaplain | 0 comments

Puncak Liturgi Gereja Katolik

JUMAT AGUNG

            Suasana yang sunyi, nyanyian tanpa musik, altar yang kosong, tabernakel terbuka lebar, lampu merah yang menandakan kehadiran Tuhan dipadamkan, lampu Gereja yang mati. Jumat Agung adalah hari kita memperingati wafat Kristus. Pada hari itu, seluruh umat Katolik diharapkan melakukan tindakan pantang atau puasa (bagi yang mampu). Satu hal penting yang perlu kita ketahui adalah seluruh perayaan yang kita lakukan pada Jumat Agung adalah ibadat bukan Perayaan Ekaristi. Pada hari Jumat Agung, tidak ada peristiwa konsekrasi atau doa syukur agung yang biasa dilakukan Imam. Komuni yang dibagikan pada ibadat Jumat Agung adalah Hosti yang telah dikonsekrasikan pada malam sebelumnya (Kamis Putih). Dan sakramen yang boleh diberikan pada hari Jumat Agung hanyalah Sakramen Tobat dan Sakramen Perminyakan.

Bagian-bagian Ibadat Jumat Agung

Ibadat Jumat Agung sebaiknya dilakukan pada sore hari menjelang jam 3 dan Ibadat Jumat Agung terdiri dari 3 bagian yaitu:

A. Ibadat Sabda

            Ibadat Sabda diawali dengan perarakan Imam dan para Putra-Putri Altar. Perarakan ini dilakukan tanpa suara dan tanpa lagu sedikit pun. Pada saat berada di depan altar yang kosong, imam dan petugas misa akan menelungkup di depan Altar selama beberapa saat atau kurang lebih 5 menit sambil mengucapkan doa dalam hati. Tindakan ini dilakukan sebagai duka mendalam yang sedang dialami Gereja Katolik. Setelah Imam dan para misdinar naik ke Altar lalu duduk di panti imam, mulai dibacakan bacaan pertama yang dilanjutkan dengan dinyanyikannya mazmur tanggapan dan perlu diingat agar tidak memakai musik, serta selanjutnya pembacaan bacaan kedua yang dibawakan oleh Lektor. Dan selanjutnya adalah Passio, Passio ini diambil dari Injil Yohanes. Bacaan Ini yang menceritakan kisah sengsara Yesus ini dibacakan dengan cara dilagukan (kalau memungkinkan) oleh tiga orang petugas yang berperan sebagai narator, Yesus, dan beberapa peran lain. Sebelum menyanyikan Passio, para petugas akan diberkati terlebih dahulu oleh Imam. Setelah Passio Yesus berlalu disambut dengan homili dari Imam atau waktu hening untuk merenungkan wafat Kristus. Setelah Homili atau waktu hening ini, dilanjutkan dengan doa umat: Intensi doa ini dinyanyikan oleh Imam atau diakon sedangkan pada bagian doa dapat dibacakan bersama dengan umat.

B. Penghormatan / Penciuman Salib

            Upacara penghormatan salib ini ditandai dengan perginya Imam dan misdinar keluar Gereja untuk mengambil salib yang akan diarak masuk ke dalam gereja. Salib ini dipanggul/diangkat oleh Imam dan diarak dari bagian belakang gereja atau tempat ibadat menuju altar. Pada saat perarakan salib, ada tiga tempat di mana kayu salib berselubung kain ungu yang dipanggul akan dibuka untuk ditunjukkan kepada umat. Di bagian belakang gereja, bagian tengah gereja, dan di depan altar. Pada saat kayu salib diangkat dan dibuka selubungnya, Imam akan melagukan ajakan pada umat untuk melihat kayu salib. Dan pada setiap perhentian, selubung kain ungu dibuka satu per satu hingga sampai di depan altar, salib tidak diselubungi kain ungu lagi. Setelah salib diletakkan di depan altar, Imam, diakon dan para Misdinar akan mencium salib sebagai tanda penghormatan terhadap Kristus yang tergantung di kayu salib.

Selanjutnya Imam dan Para Misdinar akan memegang salib tersebut dan memberi kesempatan pada umat untuk mencium salib. Selama upacara penghormatan salib, dinyanyikan lagu-lagu untuk mengenangkan misteri keselamatan yang dilakukan Tuhan untuk menebus dosa-dosa kita.

C. Komuni

            Ini adalah Bagian terakhir dari ibadat Jumat Agung. Sebelum upacara komuni ini berlangsung, misdinar akan menyiapkan kain putih di altar yang tadinya kosong. Dan 2 Misdinar sambil membawa lilin, lagi akan pergi bersama Imam untuk menemani mengambil sibori atau Sakramen Maha Kudus di ruang tuguran atau kalau Gereja yang punya kapel adorasi, mungkin saja diambil dari sana juga. Dan perlu diketahui bahwa ibadat Jumat Agung, tidak ada salam damai. Upacara komuni diawali dengan ajakan Imam untuk menyanyikan doa Bapa Kami. Setelah doa Bapa Kami, Imam akan langsung mengucapkan ritus komuni. Setelah pembacaan ritus komuni, hosti dibagikan kepada umat. Bila ada hosti yang sisa, hosti yang diletakkan dalam sibori itu akan dibantu dihabiskan oleh Imam. Bagian terakhir dari Upacara Komuni yang juga merupakan penutup ibadat Jumat Agung adalah berkat penutup. Setelah memberikan berkat penutup, Imam, misdinar dan petugas lainnya akan meninggalkan altar dan tetap dalam suasana hening tanpa nyanyian. Salib ditinggalkan di depan altar bersama lilin menyala.

Penutup
            Jumat Agung mungkin memang hari paling menyedihkan dalam Gereja Katolik, karena pada hari itu kita mengenangkan wafat Kristus yang mati di kayu salib demi menebus dosa kita semua. Pada hari itu kita diingatkan bahwa kita adalah pendosa namun dosa-dosa kita telah ditebus melalui kematian Yesus di kayu salib. Karena itu, kita harus menunjukkan rasa hormat kita dengan mempersembahkan seluruh dosa kita kepada Tuhan melalui sakramen rekonsiliasi yang akan diberikan oleh Imam.

SABTU SUNYI

            Pada hari Sabtu pagi sampai menjelang malam, Gereja tidak melakukan kegiatan peribadatan apapun. Tabernakel masih terbuka dan lampu Tabernakel juga masih mati. Selain itu, tempat air suci di pintu-pintu masuk gereja juga dikeringkan. Suasana terasa muram. Sakramen yang boleh dibagikan pada hari tersebut pun hanya Sakramen Tobat dan Sakramen Perminyakan. Gereja memang tidak melakukan kegiatan peribadatan apa pun selama Sabtu Sunyi, karena Gereja masih mengenangkan Yesus yang berada di dalam makam. Sepanjang pagi sampai sore di hari Sabtu itu, Gereja mengajak umat untuk hening dan merenungkan sengsara dan wafat Tuhan di kayu Salib, memberitahu umat bahwa Yesus sedang turun ke dunia orang mati; dan menanti dengan penuh kerinduan kebangkitan Yesus dengan berdoa dan berpuasa. Pada hari Sabtu Sunyi, Yesus beristirahat dalam makam karena Ia telah memperoleh kemenangan. Gereja pun menantikan dengan penuh kerinduan bangkitnya Kristus dari alam maut.

Pada saat raga Yesus beristirahat dalam makam, jiwa Yesus turun ke dunia orang mati mencari Adam dan Hawa yang disiksa oleh Iblis. Yesus menarik mereka keluar dari dunia orang mati. Yesus memberi kehidupan baru bagi Adam dan Hawa, selain mencari Adam dan Hawa, Yesus juga turun ke dunia orang mati untuk mengunjungi semua orang yang telah datang, sebelum Yesus hadir di tengah-tengah kita untuk mewartakan sukacita kebangkitan seperti para Nabi terdahulu.

Referensi: Congregation for Divine Worship dan Catholic Liturgy

Dominus illuminatio mea!

Sumber: http://katolisitas-indonesia.blogspot.co.id

Kategori