Chaplain

Renungan 7 Juni 2020

MISTERI ALLAH TRITUNGGAL

HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS

Keterbatasan Akal Budi

Theolog besar Gereja, St. Agustinus, konon kabarnya pernah puyeng merenungkan misteri Allah Tritunggal. Maka ia berjalan-jalan di pantai dan pikirannya tidak berhenti merenung. Seorang anak kecil membuat kolam kecil di pantai dan hilir mudik mengambil air laut dengan tempurung kelapa dan dimasukkan ke dalam kolam buatannya. Keheranan, Agustinus mendekat dan bertanya. Si anak menjawab sambil lalu, “Aku akan memindahkan laut ke kolamku”. Dan Agustinus tersenyum menggeleng-gelengkan kepala. “Nak, itu tidak mungkin. Kolammu tidak akan cukup untuk menampung air sebanyak itu”. Anak itu menjawab, “Kau jauh lebih aneh. Misteri Allah yang begitu luas dan dalam hendak kamu masukkan ke otakmu yang kecil itu?”.

Bermula dari Pengalaman

Misteri Allah Tritunggal telah diulas dalam ratusan dan bahkan ribuan buku. Dan toh, kita tidak dapat menangkap secara penuh. St. Thomas Aquinas (1225-1274) mengatakan apapun yang kita mengerti tentang Allah, selalu kurang daripada yang tidak kita mengerti. Karena Allah lebih besar dari yang kita kenal. Namun walaupun kecil, ada ruang juga untuk bisa memahami Allah. Ruang itu adalah pengalaman.

Dalam pengalaman hidup, kita dibesarkan oleh seorang ibu. Dan seorang Ibu dia sangat mengasihi dan mencintai kita. Ingat waktu kita masih kecil, umur 1-2 tahun. Senyum anak adalah kebahagiaan ibu. Tangisan anak adalah derita ibu. Dan ibu yang baik: dia akan melakukan apa saja untuk kebahagiaan anaknya. Maka Ibu yang hanya satu itu, melakonkan atau menjalani fungsi yang berbeda-beda. Di kantor dia adalah seorang manager. Dengan pekerjaan itu dia mendapatkan nafkah untuk sebagaian kebutuhan anaknya. Di rumah dia menjadi seorang penyanyi untuk menidurkan anaknya. Dia menjadi jago cerita untuk membuat anaknya mengantuk. Dia menjadi tukang bersih-bersih bagi anaknya. Dia melakukan banyak peranan. Namun dia satu. Satu ibu banyak peranan.

Tuhan juga bisa dimengerti dengan cara yang sederhana itu. Umat perdana berjumpa  dengan Yesus anak Maria. Mereka sangat takjub dan mulai menyadari bahwa melalui Yesus Allah sendiri berbicara kepada mereka. Kebenaran itu kemudian dibuktikan lewat Yesus yang bangkit dari kematian. Pengalaman itu menghantar mereka kepada kebenaran iman bahwa Yesus adalah Tuhan. Setelah Yesus bangkit kebenaran iman itu menjadi semakin gamblang: Yesus adalah Allah yang menjelma.

Demikian juga dengan Roh Kudus. Roh Kudus bukanlah teori, tetapi didasarkan kepada pengalaman. Para Murid yang percaya kepada Yesus kemudian merasakan semangat baru: dari takut menjadi berani dan merasakan pernyertaan Roh Allah.

 Dalam hidup, manusia kadang terpesona dengan indahnya ciptaan, cara kerjanya, hukum-hukum yang mengaturnya? Hati yang tersentuh dengan rasa kemegahan Ilahi kemudian menyebut BAPA sebagai asal muasal semua ini.

Allah Tritunggal adalah pengalaman iman yang dialami oleh para Jemaat purba yang kemudian mewariskan kepada kita. Maka mari daripada sibuk memperdebatkan pengertiannya, mari kita nikmati dan temukan karya-Nya dalam hidup kita.

Oh ya, ada yang bertanya; kalau Allah menjadi manusia, lantas Surga kosong dong? Pertanyaan itu adalah pertanyaan manusiawi, yang dalam hidup kita dibatasi dua dimensi: ruang dan waktu. Namun bagi Tuhan, tidak ada dimensi ruang dan waktu. Bagi Tuhan tidak ada di sana dan di sini, dia di mana-mana. Bagi Tuhan tidak ada esok, tidak ada kemarin. Semua adalah hari ini sehingga di dalam kemahakuasaanNya, Allah bisa melakuka semua ini.

Fr. Petrus Suroto MSC

Chaplain