Chaplain

Renungan 26 April 2020

Apakah Tuhan Tega?

Refleksi Coronavirus

Romo, kenapa Tuhan begitu tega membiarkan viruscorona? (NN).

Tuhan tega? Coronavirus telah membuat banyak kesulitan kita. Bekerja di rumah, menemani anak, pekerjaan dan lain-lain. Namun benarnkah Tuhan tega karena membiarkan semua ini terjadi? Saya rasa sangat tergantung dari cara kita melihatnya. Kalau yang kita lihat hanya materi (pengurangan income), atau banyaknya korban, sepertinya Tuhan tega dan kejam. Tetapi kalau melihat dari skala yang luas, maka banyak hal yang bisa kita pelajari. Saya malah melihat hal-hal baru dari coronavirus ini. Hal-hal ini saya temukan sebagian dan yang lain saya amini dari mendengarkan cerita dari teman dan kenalan dari media sosial. Saya menyebut tiga hal saja dari banyak yang saya pelajari:

Logos sedang Berintervensi

Logos itu adalah nama yang dipakai untuk menamai otak semesta alam sejak sebelum Yesus, sejak zaman filsafat kuno di Yunani. Dia bekerja dengan sangat teratur dengan hukum-hukum alam yang sangat jelas. Logos itu juga dalam Filsafat Yunani dipakai untuk menyebut Allah. Kekristenan kemudian juga memakai kata Logos untuk menunjuk kepada Tuhan Sang Pencipta dan Pemelihara segala sesuatu. Kepandaian kita dalam menandai (nitik dalam bahasa Jawa) kemudian kita kodekan dalam moral. Theologi moral dari agama Katholik sangat merujuk kepada hukum-hukum alam itu. Nah, manusia modern sekarang ini dalam banyak hal sudah terlalu jauh di dalam mentaati hukum-hukum alam itu.

Manusia enggan berubah. Terutama ketika sudah merasa nyaman. Salah satu contohnya, semua orang tahu bahwa jika energi fosil disedot dengan kecepatan sekarang ini, tidak akan lama (kira-kira limapuluh tahun dari sekarang) akan habis. Selain itu juga memberi dampak kepada pemanasan global. Dan kita akan tahu akibatnya, banyak pulau yang akan tenggelam, musim tidak teratur. Bencana alam bisa terjadi semakin sering dan semakin luas.

Dan banyak pemimpin negara tidak mau menandatangani penurununan emisi karbon sampai 20%. Mengapa? Karena dengan mengurangi emisi karbon, kenyamanan hidup kita (mobil mewah, ruang ber-ac, dll) akan menjadi diatur lebih ketat dan kita tidak mau melepaskan kenyamanan diri. Tetapi gara-gara perubahan genetic dari virus, yang sangat kecil, yang kita sebut corona-19, yang kebetulan sekali bisa masuk dalam diri manusia, semua berubah. Emisi karbon saat pandemic ini turun sampai 70%. Langit makin biru dan bersih.

Sebagai orang beriman, saya merefleksikan betapa berkuasanya Tuhan. Hanya mengubah sedikit genetic virus, dunia bisa berubah.

Saya termasuk meyakini bahwa corona ini membuat bumi kita mengalami tahun sabat. Saat bumi ini untuk sedikit beristirahat, meluruskan yang salah, memulihkan yang luka.

Kembali ke Keluarga

Beberapa orangtua tiba-tiba menyadari mereka tidak begitu mengenal anaknya. Anaknya memiliki cara berpikir dan menalar yang berbeda. Apalagi ketika mereka sudah menikah dan tidak lagi tinggal di orangtuanya. Bahkan ada orangtua yang sampai berpikir benarkah mereka anak-anak saya?

Tetapi kalau dichek, banyak orangtua karena sistem dunia modern tidak meluangkan waktu lama di dalam rumah karena bekerja dari pagi sampai malam. Anak-anak dititipkan di child-care. Bertemu dengan anak-anak saat sudah malam. Mengatur waktu untuk bersama dengan anak-anak tidak begitu mudah. Lebih repot lagi kalau suami dan istri memiliki jam kerja yang berbeda. Anak-anak tidak sungguh-sungguh merasakan suasana keluarga. Orangtua juga menjadi canggung berkomunikasi dengan anak-anaknya.

Saat ini banyak yang bekerja di rumah, anak-anak belajar di rumah. Mereka seperti disadarkan bahwa orangtualah guru sejati. Bukan hanya dalam bidang science dan komptemensi, tetapi juga merambatkan iman dan spiritualitas. Banyak yang mengalami kesulitan. Namun mereka dipaksa. Dan banyak yang kualitas kekeluargaannya menjadi lebih baik.

Energi Kreatif

Keluarga saya ada grup WA. Di masa-masa di rumah ini banyak sekali kami berbagi cerita tentang kegiatan-kegiatan harian. Dan saya sangat mengagumi betapa manusia memiliki fleksibilitas dan kreativitas yang luar biasa. Kakak saya menanam berbagai macam sayuran dengan medium yang berbeda-beda. Bisa memelihara ikan dan banyak sekali kegiatan yang mengasyikkan. Coronavirus ini seperti menarik daya kreativitas kita yang sering kali memfosil karena terlalu suka hal-hal yang rutin.

Secara lebih luas, coronavirus ini seperti mengajak umat manusia untuk hidup dengan kwalitas lebih baik, berelasi dengan lebih dalam. Juga dalam ranah rohani. Biasanya kita ke Gereja karena kebiasaan. Sekarang ini relasi kita dengan Tuhan seperti dipaksa untuk sampai ke level yang paling basic, yaitu dari hati kita. Ada rasa rindu bersentuhan dengan yang ilahi. Dan berdoa dengan lebih sederhana dan jujur. Saya jadi ingat salah satu puisi dari Pius Budiwijaya OCSO. Lebih baik doa kita setetes tetapi dari hati, daripada melimpah tetapi palsu.

Masih banyak hal baik yang bisa saya tuliskan, tetapi saya cukupkan supaya anda sendiri menambahkan hal-hal baik apa yang anda dapatkan dari wabah ini.

Akhirnya, saya merasa Tuhan tidak tega dengan kita teman, Tuhan sedang sedikit berintervensi, memaksa kita untuk belajar menjadi lebih baik. Bahwa hidup kita selalu ditandai dengan perubahan itu sendiri. Dan semoga saat coronavirus ini berlalu, umat manusia sudah cukup belajar. Sebab kalau tidak cukup belajar, para ilmuwan sudah meramalkan, Logos akan berintervensi lagi untuk memaksa kita untuk berhenti, berefleksi dan belajar.

Saudaramu dalam Tuhan,

Fr. Petrus Suroto MSC