Chaplain

Renungan 15 Maret 2020

YESUS SANG AIR HIDUP

Kontemplasi Yoh 4:52

Wanita Samaria itu merindukan kebahagiaan. Ia mengambil air di sumur pada tengah hari, pada waktu yang tidak tepat karena panas yang menyengat. Bejana tanah liat tempat dia membawa air juga terasa berat. Mengapa tidak di pagi hari? Kemungkinan besar karena ia ingin menghindar dari para wanita lain yang mungkin tahu hidup perkawinannya. Dia melindungi diri dari kritik, celaan dan ejekan. Atau walau mereka diam, tetapi cara mereka memandang sangat menyakitkan di hati, karena ada isyarat-isyarat penghinaan.

Dia kini telah berelasi dengan lima pria yang pernah menjadi suaminya. Dan sekarang dia memiliki partner. Tetapi tidak satupun yang memberikan kebahagiaan. Pengalaman perkawinan dan relasi dengan pasangan hidupnya telah tidak menggembirakan. Tugas hariannya, mengambil air di sumur komunitas adalah tugas yang  berat. Namun lebih berat lagi beban psikologis dan emosi dari pengalaman hidupnya yang tidak menyenangkan. Hidupnya seperti tersesat di pilihan-pilihan yang keliru. Beberapa kali ia mencari jalan jeluar, tetapi tidak ada jalan yang benar-benar membebaskan. Dia ingin melepaskan diri dari masa lalu dirinya yang ditandai dengan dosa dan rasa malu.

Kini dia berjumpa dengan seorang laki-laki yang sangat berbeda. Sangat lembut dan tanpa menghakimi. Ketika dia bertemu Yesus yang menawarkan air kehidupan, dia salah mengerti. Dia mengerti air dalam arti fisik, sehingga dia tidak perlu ke sumber air lagi. Sisa-sisa rasa gengsi mendorongnya berdebat dengan-Nya. Bertemu dengan pria yang benar-benar baik, tidak biasa baginya. Walau hatinya seperti disiram dengan air yang sejuk.

Ketika Yesus berbicara dengannya, hidupnya berubah. Ini ada orang yang  berbicara dengannya, yang memandangnya sebagai manusia. Dia berjumpa dan bebicara dengan orang yang memberinya kebebasan, tanpa tuntutan seperti “para suaminya”. Jesus menyingkapkan jati dirinya sebagai Mesias, Äkulah Dia yang sedang bercakap-cakap dengan engkau”.

Perempuan Samaria itu menerima dirinya begitu ringan bebannya karena bertemu dengan Dia yang berkuasa, namun tanpa menghukum, tetapi membebaskan. Dia mendapatkan kebebasan dan berlari mewartakan bahwa dia telah bertemu Mesias. Wanita Samaria itu kini menjumpai orang-orang, yang biasanya merendahkan dan meremehkan dia, yang biasanya dia hindari dengan segala cara. Dia berubah dari wanita yang penuh rasa malu menjadi wanita tanpa beban mewartakan kabar sukacita.

Kita -seperti wanita Samaria itu, juga memikul beban berat. Beban dari masa lalu, beban yang sekarang sementara kita hadapi, ataupun ketakutan-ketakutan akan masa depan. Ada yang merasa pernah membuat pilihan yang keliru dalam hidup yang tidak bisa diperbaiki lagi, ada yang cemas dengan beban-beban masa kini, dan ketakutan akan masa depan yang tidak pasti.

Sebagaimana Yesus berjumpa dengan wanita Samaria dan mengerti apa yang terjadi, Yesus juga mengerti benar tentang kita: penderitaan batin kita, perasaan malu karena masa lalu, kenangan-kenangan yang menyakitkan, perasaan bersalah, frustasi atas pilihan-pilihan yang keliru dan sekarang harus menaggung resikonya, keraguan akan masa depan. Yesus tahu akan semua itu dan Dia tetap mencintai kita.

Kita tidak bisa mengontrol masa depan, dan masa lalu tidak bisa lagi kita ubah. Namun di masa sekarang ini, dimana kita mendambakan begitu banyak hal, Tuhan ingin memberikan air hidup, ialah Diri-Nya sendiri. Ia nyata-nyata hadir dalam babtisan kita, dalam Sakramen pengakuan, di dalam Ekaristi. Ia ingin memenuhi kerinduan batin kita dan melepaskan beban batin kita. Sehingga yang tersisa hanyalah kebahagiaan sejati. Bukan karena kita tidak lagi punya masalah, duka dan kecemasan. Namun karena kita merasa Tuhan menerima dan tetap mengasihi kita dan menawarkan Diri sebagai penyelamat kita.

Mari kita rasakan kelegaan itu,  hingga kita wartakan kasihNya kepada siapa yang mau mendengarkan.

Masa depanku aku serahkan kepada Dia, yang mengerti dan mengasihi Aku, dengan kasih abadi.

Saudaramu dalam Tuhan,

Fr. Petrus Suroto MSC