Catatan manis di Hari Serah Terima

by | Dec 17, 2022 | Chaplain | 0 comments

Ini adalah artikel ke 168 yang saya tulis di buletin CIC. Ini akan menjadi artikel yang terakhir. Ada yang terasa berbeda saat menulis artikel ini. Yaitu ada berbagai kenangan indah yang bermunculan.

Ketika memulai sebagai chaplain hampir lima tahun lalu, saya memutuskan bahwa sebagai Chaplain, saya ingin menjadi saudara bagi umat. Ini hal yang baru sebenarnya, karena dalam tugas-tugas sebelumnya, metode pastoral saya adalah Scenario Building. 

Metode Scenario Building mulai dengan mimpi sehingga fokus ada pada langkah-langkah strategis dan pencapaian. Itulah sebabnya dulu saya sering dipanggil pastor manager. Tapi menjadi saudara bagai umat adalah hal yang berbeda sekali.

Selama empat tahun lebih, saya berusaha menjadi saudara bagai umat. Saya banyak mendengarkan umat dan memposisikan diri sebagai teman seperjalanan. Dengan umat yang orangtuanya sakit, umat yang anaknya disabled, mendampingi umat yang sakit yang tak tersembuhkan, mendengarkan sharing umat yang sedang bahagia karena sukses. Berhadapan dengan mereka saya merasa kecil dan sering tidak bisa memberi jalan keluar. Hanya mendengarkan, mendoakan dan sebisa mungkin memberi peneguhan.

Pendekatan pastoral ini ternyata membawa berkat yang berlimpah. Bukan karena pertama-tama pekerjaan dan pencapaaian saya, tetapi saya bisa melihat Tuhan yang bekerja. Seperti perasaan haru melihat anak muda yang telah berbulan-bulan koma dan sakit, dan kita (keluarga dan

teman-temannya) doakan. Kini dia bisa bangun lagi dan berlatih berjalan sambil tersenyum dan melambaikan tangan. Atau mendengarkan umat yang sharing tentang sentuhan Tuhan, sehingga yang tadinya jauh dari Tuhan kini rajin dalam membaca firman dan Ekaristi. Atau saat memberikan minyak suci pada umat yang sakit parah, dan setelah menerima sakramen, umat itu tersenyum dan menghadapai penderitaannya dengan damai. Atau anak muda yang bekerja di farm di pedalaman Melbourne dan bingung mengurus perkawinannya. Saat dibantu mengurus perkawinannya, mereka

tersenyum lebar dan kembali ke farm. 

Inilah yang membuat saya sangat bersyukur dan bahagia: yaitu bisa melihat tangan Tuhan yang bekerja. Dan saya dipakai sebagai penyaluran berkatnya.

“Umat yang mencintai gembalanya akan membuatnya sibuk” kata Paus Fransiskus. Saya cukup sibuk sebagai pelayan umat. Pelayanan pengurusan perkawinan misalnya, ada 77 pasangan suami istri yang saya bantu pengurusannya. Ada lebih dari 100 permandian. Pengajaran dan tentu

saja Ekaristi. Terimakasih telah membuat saya sibuk.

Maka pada kesempatan ini, saya ingin mengucap limpah terimakasih kepada seluruh umat sehingga saya bisa mengalami hal-hal yang indah ini. Terimakasih untuk menjadi saudara bagi saya. Tentu saja terimakasih ini disertai juga dengan permohonan maaf atas kekurangan dan keterbatasan

saya.

Selepas dari CIC saya akan mengambil sabatical year. Saat di mana saya diberi kesempatan untuk memiliki banyak waktu untuk berlibur, doa dan refleksi. Saya akan kembali ke rumah pembinaan MSC di Melbourne untuk “re-formation” lagi, sambil belajar untuk menjadi seorang pembimbing rohani (Spiritual Director).

Semoga Tuhan senantiasa melimpahkan berkat pada anda semua.

Saudaramu dalam Tuhan,
Fr. Petrus Suroto MSC

Kategori