Chaplain

Renungan 17 November 2019

Berkanjang Sampai Akhir Zaman

Beberapa waktu lalu, Film dengan judul 2012 –yang konon kabarnya berbicara tentang hari kiamat, mendapat perhatian sangat besar dari masyarakat. Pada hari-hari pertama diputar, gedung-gedung bioskop selalu penuh. Walau sebenarnya film itu sendiri tidak bicara tentang hari kiamat, tetapi lebih pada bencana alam yang melanda seluruh dunia. Pembicaraan tentang akhir zaman selalu menarik perhatian. Ramalan-ramalan tentang akhir zaman selalu menarik perhatian manusia. Hari Tuhan bisa bersifat mondial, artiya tidak ada satupun orang di dunia ini yang bisa lolos darinya. Tetapi  hari Tuhan bisa sangat personal. Ketika seseorang dipanggil Tuhan, Hari Tuhan sudah datang atasnya.

Bacaan Injil, juga bicara tentang akhir zaman. Runtuhnya Bait Allah (Luk 21:5-9) melambangkan hari Tuhan pada akhir zaman. Namun sebelum hari akhir itu datang masih banyak peristiwa yang akan terjadi. Akan banyak yang akan mengaku sebagai Kristus: sebagai penyelamat. “Sebab banyak orang akan datang dengan memakai namaku dan mengatakan akulah dia…” (Luk 21:8). Ayat ini bisa dimengerti di dalam dunia sekarang ini, ada banyak hal-hal yang dianggap seperti Kristus yang menyelamatkan, padahal bukan. Misalnya, orang yang berpikir bahwa uang adalah penyelamat. Maka banyak orang bertingkah laku kurang bermoral dan kurang bersusila hanya untuk mendapatkan uang. Contoh bisa ditemukan dengan mudah di dalam peristiwa-peristiwa hidup harian. Misalnya perampokan, jual-beli perempuan, penipuan dan tentu yang sangat menggelisahkan: korupsi. Orang menghalalkan segala cara karena tanpa sadar berpikir bahwa uang adalah Kristus atau penyelamat. Padahal sama sekali tidak sama. Dan Tuhan tidak suka disamakan dengan yang bukan Dia.

Rupanya sebelum hari Tuhan itu datang, akan datang prahara yang mengajak kita untuk memilah-milah dan memilih mana Penyelamat yang sejati.  Menghadapi itu, Tuhan mengatakan, “Waspadalah” (ayat 8). Waspada kepada apapun yang mengaku diri sebagai penyelamat. Maka kita perlu untuk memiliki sikap memilah-milah, membeda-bedakan: mana yang adalah Tuhan Penyelamat sejati, dan mana yang tuhan palsu dan pembawa kebinasaan. Dan kita harus memberi kesaksian, bahwa kita adalah masih bertaut kepada Tuhan yang benar.

Namun bagaimana caranya? Bagaimana kita berstrategi untuk menghadapi akhir zaman itu?

Kita adalah Gereja. Dan Gereja katolik lewat tradisinya mengajarkan praktek-praktek hidup yang membawa kepada keselamatan. Salah satunya adalah meneliti batin sebelum kita tidur. Meneliti batin, itu tidak sama dengan meneliti dosa, walaupun tidak bertentangan. Meneliti batin lebih menjawab pertanyaan: dalam langkah laku sehari ini, saya ini melaksanakan kehendak Tuhan ataukah  tuhan palsu yang saya ikuti. Kemudian tindakan-tindakan kita periksa satu persatu. Dan kita akan menemukan bahwa bahwa sering perbuatan yang kita anggap baik, seringkali berujung kepada cinta diri semata. Maka kita perlu memurnikan diri. Meneliti batin juga membuat kita selalu memberi ruang dalam hati untuk Tuhan. Kita biarkan Tuhan hadir dan tinggal dalam diri kita.

Yang lain adalah perbuatan baik. Kita perlu bersaksi bahwa kita ini milik Tuhan. Bukti paling konkrit bahwa kita milik Tuhan adalah jika kita melaksanakan ajaran-ajaran Tuhan. Dan seringkali dalam pengalaman harian, melaksanakan ajaran Tuhan itu tidak selalu mudah. Namun kita bisa, dan lihat: kita sementara melakukannya. Minggu ini kita mengumpulkan baju-baju bekas dan uang untuk kita sumbangkan ke panti-panti asuhan di pedalaman Indonesia. Kita juga terlibat di dalam pembinaan calon imam MSC. Di CIC Cambeltown kita membantu pastor-pastor diosesan yang tua dengan kolekte kedua. Kelompok-kelompok Bina Iman juga memberikan sumbangan-sumbangan kepada yang membutuhkan. Dan para umat yang menyumbangkan waktu untuk pelayanan sesama, misalnya beberapa waktu lalu FKM membuat video tentang tahap-tahap kehidupan berkeluarga.

Beerbuat baik, kadang  menghadapi tantangan yang lebih besar. Memaafkan orang yang mencederai perasaan kita, menolong orang yang tidak tahu berterimakasih, berderma dengan uang yang sebenarnya masih kita butuhkan. Namun Jika kita setia melakukannya, Tuhan akan memberikan hikmat (ayat 18). Sehingga kita akan tetap mempertahanakan iman sampai akhir sehingga kita akan memperoleh hidup yang kekal. 

Saudaramu dalam Tuhan,

Fr. Petrus Suroto MSC