CIC Sydney

Renungan 13 Oktober 2019

KENAPA HARUS SAYA?

Dengan air mata yang deras mengalir, dia bertanya, “kenapa harus saya Pastor?”. Begitulah pengalaman beberapa kali mengunjungi orang-orang sakit, terutama umat CIC Sydney. Kenapa saya. Ya. Kenapa saya yang harus mendapatkan kesulitan ini. Banyak diantara mereka yang sakit adalah umat yang baik hati dan sangat aktif dalam pelayanan. Mereka melayani dengan sungguh-sungguh dan tulus.

Sakit Dalam Kitab Suci

Kitab Suci memiliki refleksi yang beragam atas situasi sakit. Dalam Perjanjian Lama, sakit adalah hukuman atas dosa dan kesalahan (Ul.38: 21-22; 27-29; Mzm. 37; 40; 106). Namun demikian, kita tidak bisa langsung menunjuk pada penderita sebagai yang bersalah. Misalnya beberapa penyakit disebabkan oleh udara yang mengandung polusi, atau makanan dan air yang memicu sakit tertentu, atau kuman yang tidak begitu kita ketahui. Rupanya kita harus berani untuk ikut menanggung penderitaan dari sesama kita, karena bukan hanya mereka yang bersalah. Tetapi banyak di antara umat manusia.

Kitab Ayub memberikan perspektif yang berbeda. Tidak semua penyakit merupakan hukuman. Sakitnya orang benar menunjukkan kesetiaan dan kebenaran orang tersebut (Ayub). Para nabi mewartakan jaman mesianik: tidak ada lagi sakit dan penyakit. Kemenangan mesianik atas sakit tidak hanya melalui penyembuhan tetapi juga kerelaan menerima penderitaan dan menyatukannya dengan Kristus ( Kol. 1:24; 1Tes. 1:6).

Sakit Sebagai Keterpilihan

            Ketika saya mengunjungi satu pasangan muda yang anaknya menderita sakit yang langka, dia mengatakan bahwa sakit adalah keterpilihan! Mendengarkan sharing imanya, saya ingat akan penderitaan Yesus Kristus Tuhan . “Ia tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi menyerahkan-Nya bagi kita semua” (Rm 8:32). Sejak diserahkan, hidup Yesus mengalami titik balik. Dia yang tadinya sibuk berkarya: mengajar, menyembuhkan, pergi kemana Dia kehendaki kini Dia tidak lagi bebas berkarya. Kini Dia menjadi obyek perbuatan orang lain, yang malangnya memperlakukan Yesus semau-maunya: diludahi, ditertawakan, dicambuk, dimahkotai duri, ditelanjangi, disalibkan. Dan melalui sengsara ini Dia memenuhi panggilan perutusan-Nya. Henry Nouwen mencatat bahwa Yesus menyelesaikan perutusannya dengan apa yang Dia kerjakan, tetapi juga dengan yang dikerjakan orang lain kepada-Nya. Ketika kita sakit, kita juga tidak bebas berkarya, tetapi membuat orang lain juga berbuat kebaikan kepada kita.

            Saya juga teringat akan buku yang berjudul The History of Sapiens. Penulis buku mengatakan bahwa sebenarnya sapiens bukanlah satu-satunya manusia di bumi. Ketika nenek moyang manusia modern hidup di Afrika 70,000 tahun yang lalu, mereka tidak sendirian. Di Eropa ada Neanderthal, di Jawa ada homo Soloensis, di Flores ada homo Floriensis. Tapi mengapa mereka semua punah dan hanya homo sapiens, justru yang paling rapuh dibanding ras yang lain, yang justru bertahan? Karena manusia saling peduli satu dengan yang lain. Hanya manusia yang saling care satu dengan yang lain.

            Ketika kita sakit, kita berbuat hal yang besar juga karena melatih sesama kita untuk memelihara sikap saling peduli dan saling merawat satu dengan yang lain. Itulah sebabnya Gereja Katholik melarang euthanasia dan pengguguran kandungan. Ketika mereka yang menderita segera kita enyahkan, jangan-jangan naluri merawat kita menjadi tumpul dan manusia akan menjadi punah.

            Mengunjungi mereka yang sakit, saya menjadi terdoa dan respek kepada mereka. Sekaligus banyak belajar dari mereka.

Saudaramu dalam Tuhan,

Pst. Petrus Suroto MSC