Chaplain

Renungan 12 Juli 2020

ATEISME BARU

Sadarkah anda bahwa sekarang ini ada gerakan yang disebut atheisme baru. Gerakan ini adalah kumpulan dari para pemikir, penulis dan para pengikut yang berpendapat bahwa tahayul, agama dan pemikiran tidak logis tidak hanya ditolerir, tetapi harus dikritik dan dilawan dengan argumen, baik itu di dalam level pemerintahan, pendidikan dan politik. 

Argumen mereka adalah agama menjadi biang dari kekerasan, perang dan kekejaman. Mereka memiliki keyakinan bahwa dunia akan menjadi lebih baik kalau tidak ada agama.

Mereka berusaha untuk melawan agama-agama monotheistik. Gereja Katholik adalah sasaran bagi mereka karena struktur Gereja Katholik yang mendunia.

Tentu Gereja tidak bisa tinggal diam. Namun jika kita menyerang balik mereka, karena kalau Gereja mengatakan New Atheism mengkriminalisasi agama, maka itu jawaban yang ditunggu-tunggu. Gereja akan diserang sebagai tidak logis.

Gereja hanya akan meyakinkan apabila Gereja menjadi tempat yang menyejukkan di mana orang-orang merasakan kasih dan kerahiman Allah, dan perhatian kepada mereka yang miskin dan menderita. Itupun tidak dengan kata-kata tetapi dengan perbuatan nyata.

Ateisme baru ini menyusup di dalam kehidupan orang modern. Maka jangan heran kalau anak anda tiba-tiba berujar, ‘Gara-gara agama dunia ini perang.” Dan kalau anda menyalahkannya, maka makin benar yang dipikirkan kaum atheis, benar kan, orang beragama emoisonal dan tidak logis. Dan walaupun anda mencoba meyakinkan tetap saja sulit. Tetapi kalau anda tetap mengasihi anak-anak dengan sungguh-sungguh, tidak dengan kata-kata tetapi dengan perbuatan nyata, mereka akan mengalami pentingnya agama.

Sebenarnya, orang-orang beriman tidak perlu keder. Benar bahwa kita sering dicari-cari borok-borok kita. Namun jangan dilupakan apa yang telah disumbangkan Gereja kepada dunia. Rumah sakit, tempat merawat orang tua berasal dari tradisi Kristen. Bahkan kata Suster tetap dipakai sampai sekarang untuk kata perawat. Pendidikan dan charity juga berasal dari tradisi kekristenan.

Secara positif, kehadiran mereka sebenarnya mengajak kita untuk kembali kepada jati diri kita, sebagai murid Yesus. Uskup Sunarko SJ, pernah mengatakan, apa kriteria dari kehadiran Yesus di lingkungan kita? Kristus hadir kalau ada cinta kasih yang diwujudkan dalam karya-karya pendidikan, kesehatan dan charity, yang dibawa oleh murid-murid Yesus. Bagaimana dengan kita? Apakah hidup beriman kita hanya seputar ibadat saja, atau kita ujudkan dalam tindakan yang nyata?

“Wartakan Injil dengan perbuatanmu, dan dengan kata-kata, hanya jika perlu” (Fransiskus Asisi).

Saudaramu dalam Tuhan,

Fr. Petrus Suroto MSC