Meninggalkan Keluarga

by | Sep 19, 2022 | Chaplain | 0 comments

“Petrus, anak perempuan saya memilih bekerja di USA, di Las Vegas”. Suaranya getir. Matanya berkaca-kaca. “Tidak mudah lagi bagi saya untuk melihatnya”. Kami diam. Lalu saya bertanya, “Pada usia berapa kau putuskan meninggalkan Cork, (Irlandia) dan pergi ke Australia di tahun 90-an?”  Setelah diam sejenak dia menjawab, “Ya, seumuran anak perempuan saya itu”. Tiba-tiba dia tersenyum.

Pembicaraan mirip seperti di atas sering terjadi. Yaitu mereka yang begitu cemas dengan anak yang mengambil keputusan meninggalkan keluarga; menempuh karier di tempat baru. Dan, tanpa mereka sadar, mereka juga sudah meninggalkan orangtuanya untuk memilih tinggal di kota lain.

Mengapa harus meninggalkan keluarga? Ketika Yesus pulang ke kampung halamannya dan mengajar di Sinagoga, orang-orang berkata, “Bukankah dia anak tukang kayu, bukankah Maria Ibunya ada bersama kita, bukankah saudara-saudaranya perempuan semua berada bersama kita? Lalu mereka kecewa dan menolak dia” (bdk. Matius 13:54-57). 

Keluarga adalah tempat kita bertumbuh, menjadi pribadi yang percaya diri dan mandiri. Keluarga membuat kita merasa memiliki dan dimiliki. Namun kadang kita perlu meninggalkan mereka. Kenapa? Karena keluarga kita menganggap diri mereka mengerti kita, cita-cita dan bahkan merasa mengerti sumber terdalam dari kekuatan kita. Henry Nouwen (Jesus: A Gospel, 2001) menulis bahwa Yesus juga mulai mengambil jarak dari keluarganya dan membangun kewibawaanNya di luar keluarga. Bahkan keluargaNya kesulitan untuk bertemu dengan-Nya.

Saya jadi ingat di tahun 1990, hanya delapan bulan setelah ayah meninggal, sewaktu memutuskan masuk Tarekat MSC dan meninggalkan keluarga di Magelang dan pindah ke Manado. Ibu saya menangis, tetapi saya mengeraskan hati. Tanpa meninggalkan mereka, amat susah untuk menjadi seutuhnya merdeka dan mendengarkan suara Tuhan. Ibu saya baik hati dan sangat sayang pada saya. Tetapi kadang terlalu protektif. 

Henry Nouwen menulis, “Yesus sering mengatakan “tidak”pada keluarga untuk bisa mengatakan “ya” kepada Allah. 

‘’Untuk umat CIC yang anaknnya memilih berpindah ke kota/negara lain  yang jauh, doaku untuk anda semua”. 

Saudaramu dalam Tuhan,
Fr. Petrus Suroto MSC.

Kategori