HUKUM YANG TERUTAMA

by | Oct 29, 2023 | Chaplain | 0 comments

Umat CIC Sydney ytk,

Alkisah ada seorang ibu yang selama hidupnya tidak pernah berbuat baik. Ketika ia meninggal, setan merenggutnya ke neraka. Namun, malaikat pelindungnya tidak berputus asa. Ia berjuang supaya perempuan itu bisa masuk surga. Karena itu, ia mencari-cari entahkah perempuan itu pernah melakukan perbuatan baik selama hidupnya. Tiba-tiba wajahnya berseri-seri. Ia teringat akan sesuatu. Ia pun menghadap Allah dan berkata: “Saya masih ingat dengan baik sekali bahwa perempuan itu pernah memetik daun bawang dari kebunnya dan memberikannya kepada seorang pengemis.” “Baiklah,” kata Allah, “turunkanlah daun bawang itu kepadanya dan gunakanlah daun bawang itu untuk mengangkatnya ke surga. Kalau engkau berhasil maka dia boleh masuk ke surga.”

Malaikat itu pun dengan gembira menurunkan daun bawang itu ke neraka dan memerintahkan perempuan itu untuk memegang ujungnya. Dengan hati-hati malaikat itu memegang ujung yang lain dari daun bawang itu dan menariknya ke surga. Namun, ketika orang-orang lain melihat bahwa perempuan itu pelan-pelan terangkat ke surga, mereka pun ramai-ramai memegang kakinya supaya mereka pun terangkat ke surga. Perempuan itu cemas kalau daun bawang itu putus. Karena itu, ie menendang mereka sambil berkata: “Ini daun bawang saya dan bukan daun bawang kamu! Hanya saya boleh diselamatkan menggunakan daun bawang ini.” Ketika ia berkata demikian, daun bawang itu putus dan perempuan itu jatuh kembali ke neraka. Malaikat pelindungnya menangis tersedu-sedu karena tidak mampu menyelamatkan perempuan itu.

Daun bawang itu putus ketika perempuan itu mengatakan: “Ini daun bawang saya dan bukan daun bawang kamu!” Dengan demikian, sampai saat itu pun ia belum bertobat dan masih hanya ingat diri sendiri dan tidak memperdulikan orang lain. Andaikata ia membiarkan orang-orang lain turut naik ke surga bersamanya, niscaya ia akan selamat. Pesan dari cerita itu ialah manusia akan diadili oleh perbuatannya sendiri, yakni cinta kasih yang dilakukannya terhadap sesama manusia.

Dalam Injil hari ini orang-orang Farisi bertanya kepada Yesus tentang hukum yang terutama dalam hukum Taurat. Yesus menjawab mereka dengan mengatakan bahwa hukum yang terutama adalah mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dan dengan segenap akal budi. Sementara hukum yang kedua ialah mencintai sesama manusia seperti diri sendiri. Di dalam kedua hukum itu tersirat seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Kedua hukum itu mempunyai hubungan erat. Di satu pihak, cinta terhadap sesama harus bersumber pada cinta Ilahi, yakni cinta kepada Allah. Di pihak lain, cinta kepada Allah mengembil bentuknya yang konkret dalam mencintai sesama manusia. Bagaimana mungkin kita bisa mencintai Allah yang tidak kelihatan kalau kita tidak mencintai manusia yang kelihatan. Karena itu, mencintai Allah dan sesama adalah satu dan sama. Itulah hukum yang terutama. Begitu kita hidup dilandasi oleh cinta kasih kepada Allah dan sesama, maka hukum-hukum yang lain akan terpenuhi. Dengan menjadikan cinta kasih satu-satunya hukum, kita menjadikan cinta kasih sebagai norma, kriteria, dan ukuran dalam bertingkah laku. Oleh sebab itu, tingkah laku dan perbuatan kita hendaknya mencerminkan cinta kasih kepada Allah dan sesama. Dalam arti ini, kita bisa memahami kata-kata Santo Agustinus: “Cintailah dan berbuatlah apa saja yang engkau sukai.” Artinya, kita boleh berbuat apa saja sejauh itu didasarkan pada cinta kasih. Namun cinta kasih itu mendapat bentuk yang paling konkret dalam pengorbanan yang kita berikan kepada Allah dan sesama. “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sabahat-sahabatnya,” (Yoh 15: 13). Kasih seperti itu telah ditunjukkan oleh Yesus Kristus dan ribuan martir sepanjang sejarah Gereja. Kita pun diajak untuk melakukan pengorbanan yang sama sebagai tanda bahwa kita mencintai Allah dan sesama.

Fr. Agustinus Handoko MSC
Chaplain to the Indonesian Community
193 Avoca St, Randwick NSW 2031

Kategori