“Jangan Sekadar Menerima Benih… Jadilah Tanah yang Subur!”
Umat CIC SYDNEY ytk,
Setiap hari Tuhan selalu “menabur benih” ke dalam hidup kita. Benih itu bisa berupa Sabda Tuhan, nasihat orang tua, teguran sahabat, pengalaman hidup, bahkan kegagalan yang membuka mata kita. The problem is never the seed. The problem is the soil. Persoalannya bukan pada benih yang ditaburkan Tuhan, tetapi pada hati yang menerimanya.
Yesus menggambarkan ada beberapa jenis “tanah”. Bukankah itu juga gambaran manusia zaman sekarang?
#Ada orang yang mendengar Sabda Tuhan, tetapi langsung hilang karena pikirannya sudah dipenuhi media sosial, gosip, ambisi, dan ego. Firman hanya mampir sebentar, lalu menguap tanpa bekas.
#Ada juga yang awalnya begitu semangat. Retreat ikut. Seminar ikut. Komunitas ikut. Pelayanan pun paling depan. Tetapi ketika mulai ada kritik, konflik, atau pengorbanan, semangatnya ikut layu. Started with passion, ended with disappointment. Awalnya berkobar, akhirnya menghilang.
#Ada pula yang sebenarnya ingin bertumbuh, tetapi hidupnya dipenuhi “duri”. Kekhawatiran, urusan uang, gengsi, karier, popularitas, kenyamanan, bahkan luka hati perlahan-lahan mencekik pertumbuhan iman. Firman Tuhan tidak mati, tetapi tidak pernah sempat berbuah.
Fenomena seperti ini sangat nyata di komunitas kita. Ada yang panas-panas tahi ayam. Ada yang rajin hanya kalau suasana menyenangkan. Ada yang melayani selama dipuji, tetapi mundur ketika tidak dihargai. Ada yang berkata, “Tuhan, utuslah aku!” tetapi diam ketika pelayanan membutuhkan pengorbanan.
Padahal Tuhan tidak mencari orang yang hanya excited, tetapi orang yang faithful. Bukan sekadar yang emosinya berkobar, tetapi yang kesetiaannya bertahan.
God is not looking for perfect people. He is looking for fertile hearts.
Tanah yang subur bukan berarti hidup tanpa masalah. Tanah yang subur adalah hati yang tetap terbuka, tetap rendah hati, tetap mau belajar, tetap setia, meskipun hujan badai kehidupan datang silih berganti.
Umat CIC SYDNEY ytk,
Dalam kehidupan diaspora di Sydney, kita juga menghadapi banyak tantangan: kesibukan kerja, studi, keluarga, tekanan ekonomi, kesepian, bahkan rasa lelah dalam pelayanan. Semua itu bisa menjadi “duri” yang menghambat Sabda Tuhan bertumbuh. Namun Injil hari ini mengajak kita untuk terus mengolah hati.
“Cor bonum, terra bona. Hati yang baik akan menjadi tanah yang baik.”
Maka pertanyaannya bukan lagi:
“Apakah Tuhan masih berbicara kepadaku?”
Tetapi:
“Apakah hatiku masih cukup subur untuk menerima suara-Nya?”
Karena Tuhan tidak pernah berhenti menabur.
Jangan sampai yang berubah hanyalah kalender, jabatan, atau usia pelayanan, tetapi hati kita tetap keras dan tidak menghasilkan buah.
Mari menjadi tanah yang menghasilkan kasih, pengampunan, kesetiaan, kerendahan hati, sukacita, dan semangat melayani. Sebab iman yang sejati bukan hanya didengar, tetapi juga dihidupi.
Don’t just listen to God’s Word. Live it. Grow it. Share it.
Dan saat hati menjadi tanah yang subur, hidup kita sendiri akan menjadi “Injil yang dapat dibaca” oleh dunia.
Verbum Dei non solum audiendum est, sed vivendum.
Sabda Tuhan bukan hanya untuk didengar, tetapi untuk dihidupi.
Punchline minggu ini:
“Tuhan selalu menabur benih yang baik. Pertanyaannya bukan: seberapa hebat benih itu, tetapi: seberapa subur hatiku?”
Be good soil… and you will bear extraordinary fruit.
Salam sukacita & Berkah Dalem.
Gaspol for Christ! 🙏🔥
RP. Agustinus Handoko HS MSC
Chaplain to the Indonesian Community
193 Avoca St, Randwick NSW 2031
PO BOX 309, Randwick NSW 2031
Email: hanhanmsc@yahoo.com atau Chaplain@cicsydney.org