Site icon CIC Sydney

Setelah Menikah 25 Tahun (3)

Dalam tulisan sebelumnya, dipaparkan kemungkinan adanya krisis dalam relasi suami istri. Krisis itu perlu dilalui dengan damai. Lantas, setelah tenang kembali, apa yang dilakukan?

Bisakah kehidupan setelah krisis usia 25 tahun perkawinan kembali normal seperti sebelum krisis? Jawabannya sangat tergantung dari keluarga mereka masing-masing. Corak relasi pasangan suami istri itu unik. Tidak sama antara pasangan yang satu dengan yang lain. Ada suami atau istri yang cukup puas menjadi pendamping bagi pasangannya. Dan ini benar adanya. Bukankan kita sering mendengar ungkapan, “di balik suami/istri yang sukses, ada istri/suami yang hebat?”.

Wanita besi, Margareth Thatcher (1925-2013) memiliki suami yang hebat, Denis Thatcher (1915-2003). Semula Dennis adalah pengusaha yang kaya, namun kemudian memilih untuk support carrier istrinya. Namun Margareth tidak pernah meremehkan suaminya. Diceritakan, sepulang dari kerja, Margareth akan mencari-cari sang suami yang sering bersembunyi. Dan ketika ketemu, dia akan melemparkan apa yang dia pegang dan memeluk suaminya erat-erat dan kemudian menyiapkan makan malam untuk suami yang menemani sambil mengisi teka-teki silang. Atau Ibu Iriana yang memilih untuk menjadi istri rumah tangga bagi suaminya, Bp. Jokowi. Kuncinya, respect. Tidak pernah mengatakan saya yang mencari nafkah dan kamu cuma menumpang. Itu kasar sekali, mate….

Namun ada pribadi-pribadi tertentu yang tidak bisa. Mereka adalah pribadi yang mendengarkan suara hati yang memanggilnya untuk berbuat sesuatu. Mereka tidak bisa menjadi pendamping. Mereka ingin menjadi pelaku aktif.
Kalau engkau dan pasanganmu termasuk dalam tipe ini, anda memerlukan struktur dan pola relasi yang baru. Dan banyak keluarga-keluarga di Sydney, tipenya seperti ini. Dua-duanya memiliki karier.

Jika anda termasuk tipe yang tidak bisa menjadi sekedar pendamping suami atau istri, maka struktur baru perlu dibangun dalam keluarga anda. Hal-hal ini dalam perspektif psikologi keluarga ditekankan:

Keadilan
Suami istri diminta untuk sekali lagi menempatkan keadilan dalam keluarga. Benar bahwa cinta itu penting. Tetapi cinta yang tidak dilandasi keadilan akan cepat lapuk. Formulasi cinta yang tepat pada usia ini adalah: Love+Justice: Peace. Namun merasa diperlakukan dengan adil itu subyektif. Maka cara untuk merasakan “perasaan adil” itu adalah dengan komunikasi yang mendalam. Komunikasi saling mendengarkan.

Komunikasi yang lebih Sistemik
Komunikasi perlu juga diperbaiki dalam usia perkawinan ini. Jangan hanya puas bicara siapa/buat apa/kapan/di mana? Tetapi lengkapi juga dengan bagaimana perasaanmu… Ketika menghadapi masalah, tidak saatnya lagi berpikir linear atau sebab akibat. Cara berpikir sebab akibat selalu menuduh pasangannya yang menjadi penyebab dari situasinya. Contohnya kata-kata “Karier saya tidak berkembang gara-gara kamu!”.

Cara berpikir alternatif adalah berpikir sistemik. Suami dan istri saling mempengaruhi. Sikap positif akan menyuburkan sisi positif dalam relasi pasangan dan vice versa.

Saatnya kepada Spiritualitas yang lebih dalam
Pada saat usia perkawinan sudah di atas 25 tahun, suami-istri merasakan undangan Tuhan untuk menjadi lebih Spiritual. Mereka ingin memiliki perhatian yang lebih meluas. Namun bukan sebagai pribadi terlepas, melainkan sebuah team.

Pola pertumbuhan kehidupan suami istri dapat diterangkan dengan gerakan ini: Sensualitas, Sexualitas dan Spiritualitas. Sensualitas karena ketika masih nona dan nyong mereka saling tarik menarik, sangat sensual, untuk menyatu. Sexualitas: saling memberikan diri sesuai identitas kepriaan dan kewanitaan. Segala bakat dan kemampuan dipadukan, untuk mendapatkan performa terbaik dalam kehidupan keluarga. Dan setelah itu spiritualitas: menanyakan apa yang menjadi arah sejati dari hidup? Apa yang akan menjadi makna bagi semua ini.

Mereka berdua akan menjadi pribadi yang lebih berjangkar pada iman akan Tuhan.

Dari sini corak hidup yang spritual dimulai. Suami istri menjadi teman berbagi, dalam kemerdekaan hati, untuk lebih dalam dan spritual berbagi pengalaman dan kerinduan terdalam: menemukan Tuhan dalam hidup.
Mereka juga diajak untuk lebih dalam terlibat di dalam hidup kehiduapan menggereja. Bukankah mereka lebih memiliki waktu karena tidak lagi mengurusi anak-anak?

tenang, pasutri bisa melangkah ke tahap berikutnya. (Bersambung)

Exit mobile version