Site icon CIC Sydney

KEHORMATAN BAGI ORANG YANG RENDAH HATI

Umat CIC Sydney ytk,

Dalam Injil Lukas 14:1.7-14 kita dapat merenungkan bagaimana Yesus berbicara tentang kerendahan hati melalui perumpamaan pesta perkawinan. Ia menegur orang-orang Farisi yang berebut tempat terhormat dan mengajarkan bahwa siapa yang meninggikan diri akan direndahkan, dan siapa yang merendahkan diri akan ditinggikan. Kerendahan hati bukanlah sikap minder atau menyepelekan diri, melainkan sikap sadar bahwa segala yang kita miliki adalah pemberian dari Allah. Dengan kata lain, kita harus mampu menerima diri, bersyukur atas segala anugerah yang berasal dari Allah serta mengembangkan potensi, bakat, ataupun talenta diri dengan segala kemampuan dan keterbatasan kita. 

Dewasa ini, dalam dunia yang penuh persaingan, kita sering tergoda untuk mengejar kehormatan, pengakuan, posisi, bahkan popularitas. Namun Injil hari ini mengingatkan kita bahwa kemuliaan sejati datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah.

Yesus juga menyampaikan pesan bahwa ketika engkau mengadakan perjamuan, jangan hanya mengundang orang-orang kaya atau yang bisa membalas jasamu, melainkan undanglah orang miskin, cacat, lumpuh, dan buta sebagai wujud nyata dari kasih tanpa pamrih. Yesus mengajak kita bukan untuk memberi agar mendapat balasan. Ia justru mendorong kita untuk memberi kepada mereka yang tidak dapat membalas, karena itulah kasih yang sejati (semakin banyak memberi, semakin banyak mendapat). Dalam konteks kehidupan sehari-hari bisa berarti menolong tanpa berharap pujian, mengasihi tanpa syarat bahkan melayani tanpa mengharapkan balasan.

Umat CIC Sydney ytk,

Pentingnya kerendahan hati dan kasih tanpa pamrih, mengajarkan bahwa orang yang meninggikan diri akan direndahkan, sedangkan yang merendahkan diri akan ditinggikan. Yesus menyoroti sikap orang Farisi yang berebut tempat terhormat dan mengingatkan untuk mengundang orang miskin, cacat, dan buta pada perjamuan agar mendapatkan kebahagiaan yang sejati dari Allah, bukan balasan manusia.

Kerap kali dalam dunia media sosial dengan budaya “like dan followers” tanpa disadari orang menolong atau berbagi hanya untuk mendapatkan sorotan demi sebuah popularitas. Tetapi dalam Injil hari ini menantang kita, sehingga timbul sebuah pertanyaan apakah kasih itu sungguh murni? Relevansinya bagi kita sebagai umat beriman dalam hidup sehari-hari melalui Injil hari ini “entah” di lingkungan kerja, kantor, sekolah, keluarga, masyarakat maupun dalam komunitas iman, kita tidak perlu memperebutkan posisi ataupun jabatan, melainkan bagaimana kita dapat bekerja dengan tulus serta iklhas dalam melayani, mampu mendahulukan kebutuhan orang lain, walaupun terkadang hal kecil dan sederhana (bonum commune) serta dapat melayani tanpa pamrih meski sekalipun tidak terlihat oleh orang lain. Kerendahan hati bukan berarti menunjukkan bahwa kita lemah, melainkan menunjukkan bahwa kita kuat di dalam kasih Allah.

Umat CIC Sydney ytk,

Arogan bukan hanya persoalan orang Israel. Kenyataannya, merasa lebih tinggi dan terhormat itu “kesukaan alamiah” manusia. Termasuk kita, mungkin. Inilah pula yang dibicarakan Yesus dalam Injil. Dengan sederhana, Yesus  mengingatkan bahwa “di atas langit masih ada langit”. Ia tidak hanya berbicara tentang kenyataan bahwa selalu ada orang yang lebih pandai atau hebat daripada kita. Lebih dari itu, Ia ingin kita menyadari kehadiran Allah yang melebihi segala sesuatu. Dia pulalah yang memberikan semua kehebatan yang kita miliki.

Allah sesungguhnya menjadi standar atau ukuran kehormatan bagi kita. Bukan seberapa hebat kita, melainkan hati dan ketaatan kepada-Nya yang menjadi pangkal kehormatan Allah akan memuliakan mereka yang berkenan kepada-Nya, sebagaimana Ia telah memuliakan Yesus Kristus. Bersikaplah rendah hati, demikian ditandaskan Yesus: “Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan (Luk. 14:11). Kehormatan itu haknya bagi orang yg rendah hati. Sebaliknya kehancuran akan menanti orang yang congkah hati. Belajarlah rendah hati seperti Yesus rendah hati.

Ametur

RP. Agustinus Handoko HS MSC

Chaplain to the Indonesian Community

193 Avoca St, Randwick NSW 2031

PO BOX 309, Randwick NSW 2031

Email: hanhanmsc@yahoo.com atau Chaplain@cicsydney.org

Exit mobile version