Site icon CIC Sydney

KEBUN ANGGUR ITU MILIK TUHAN

Inspirasi Injil: Matius 21:33–43

“Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru.”

(Mat 21:42)

🙏Sejenak Merenung🙏

Yesus bercerita tentang seorang tuan tanah yang menanam kebun anggur, melengkapinya, lalu mempercayakan kebun itu kepada para penggarap. Ketika tiba waktunya untuk menerima hasil, para penggarap malah memperlakukan utusan-utusan sang pemilik dengan kasar. Bahkan anaknya sendiri mereka bunuh. Mereka ingin menguasai kebun itu seolah-olah kebun tersebut milik mereka.

Kisah ini bukan sekadar cerita tentang kebun anggur. Ini cermin bagi hidup kita. Apa yang kita punya—waktu, kesehatan, pekerjaan, keluarga, pelayanan, talenta, bahkan harta—semuanya dipercayakan Tuhan kepada kita. Kita ini penggarap, bukan pemilik.

Namun, kadang hati kita mulai merasa berhak atas segalanya. Sudah menerima banyak, masih saja mengeluh: “Kok cuma segini?” “Kenapa dia dapat lebih?” “Kenapa pelayanan saya tidak dihargai?” “Kenapa orang lain lebih sukses?” Kita sibuk menghitung berkat orang lain, sampai lupa mensyukuri kebun yang sudah dipercayakan kepada kita.

Media sosial bisa membuat perbandingan itu makin gampang. Kita melihat hidup orang lain tampak lebih mewah, lebih berhasil, lebih bahagia. Lalu hati menjadi panas dan mulut mulai menuntut. Why do they have more than me? Padahal yang kita lihat sering hanya bagian indahnya, bukan perjuangan dan air mata di baliknya.

Para penggarap dalam Injil bukan hanya mengeluh. Mereka berusaha merebut kebun itu. Kita pun bisa melakukan hal serupa ketika memakai berkat Tuhan hanya untuk kepentingan diri sendiri, menjadikan jabatan sebagai alat mencari nama, atau memperlakukan orang lain sebagai sarana untuk memperoleh keuntungan. Bahkan dalam pelayanan, kita bisa tergoda merasa paling berjasa, paling berhak, dan harus selalu mendapat posisi.

Saudara-saudari, pertanyaannya sederhana tetapi tajam: kita ini penggarap yang setia atau penggarap yang jahat? Apakah hidup kita menghasilkan buah yang diharapkan Tuhan—buah syukur, keadilan, kasih, kejujuran, dan kepedulian? Ataukah kita hanya sibuk menuntut, menguasai, dan mengamankan bagian kita sendiri?

Tuhan tidak meminta kita menjadi sempurna. Ia meminta kita setia mengelola apa yang telah dipercayakan-Nya. Gratia Dei—rahmat Tuhan—bukan untuk disimpan sendiri, melainkan dibagikan dan menghasilkan buah.

🌿Aplikasi Dalam Keseharian 🌿

Minggu ini, sebelum mengeluh tentang apa yang belum kita punya, sebutkan tiga berkat yang sudah kita terima. Lalu tanyakan kepada diri sendiri: “Dari kebun anggur yang Tuhan percayakan kepadaku, buah apa yang bisa kubagikan kepada sesama?”

Mungkin buah itu berupa waktu untuk keluarga, perhatian bagi orang yang kesepian, kejujuran dalam pekerjaan, atau pelayanan yang dilakukan tanpa mencari pujian. Kebun itu milik Tuhan. Mari kita kelola dengan setia.

Doa

Tuhan, terima kasih atas segala yang telah Engkau percayakan kepadaku. Ampuni aku ketika lebih banyak menuntut daripada bersyukur, dan ketika memakai berkat-Mu hanya untuk diriku sendiri. Jadikan aku penggarap yang setia, yang menghasilkan buah kasih, keadilan, dan kepedulian bagi sesama. Amin.

❤️Punchline Today❤️

Jangan sibuk menuntut bagian lebih besar. Rawatlah dengan setia kebun yang sudah Tuhan percayakan kepadamu.

✝️Salam sukacita & Berkah Dalem – Mohan HS MSC💟

🌹Gaspol for Christ🌹

RP. Agustinus Handoko HS MSC

Chaplain to the Indonesian Community

193 Avoca St, Randwick NSW 2031

PO BOX 309, Randwick NSW 2031

Email: hanhanmsc@yahoo.com atau Chaplain@cicsydney.org

Exit mobile version