Site icon CIC Sydney

Katolik Radikal

Q: Moto, saya ingin menjadi orang katolik yang Radikal. Saya tidak puas mengikuti Yesus setengah-setengah. Bagaimana caranya?

Hai,  teman, jawaban saya merujuk kepada sebuah buku yang sangat bagus, yang ditulis oleh pastor cendekiawan senior, Franz Magnis-Suseno, “Katolik itu Apa” (Yogyakarta: Kanisisus, 2017).

Anda memulai dengan kata radikal. Radikal adalah kata bahasa latin radix yang artinya akar. Jadi ibarat pohon, anda ingin membangun diri dari akar yang benar, yaitu Kristus, supaya pertumbuhan dan buahnya baik. Dalam spiritualitas, akar kita bisa digolongkan dalam tiga hal:

Namun ada tiga focus yang bisa dijadikan patokan seberapa dalam kekatolikan kita. Tiga fokus itu adalah:

Kerahiman

         Rahim itu menunjuk kepada satu tempat paling aman waktu kita berada di dalam kandungan ibu. Maka kalau kita menyebut Allah yang maharahim, itu berarti kita menyadari hidup kita berada di dalam lindungan kasih Allah. Di dalamnya kita mendapatkan pertumbuhan. Seperti bayi yang bertumbuh pesat di dalam Rahim ibu.

            Adalah Paus Benedictus yang mengingatkan akan dimensi kerahiman ini. Kita harus menjadi refleksi dari Yesus sendiri yang memancarkan cinta kasih dalam segala dimensi. Kerahiman itu berarti: Gereja Katolik dan kita masing-masing, tak pernah secara definitive menolak seseorang. Karena itu adalah inti dari sikap Allah sendiri kepada manusia. Pendosa yang paling jahatpun ditawari pengampunan dan  rekonsiliasi penuh. Maka Gereja juga harus berkerahiman, terhadap siapapun. Juga terhadap mereka yang oleh Gereja dianggap benar atau berdosa “secara objektif”. Kerahiman Allah adalah sikap lawan terhadap kekerasan hati yang menutup orang terhadap belas kasihan ilahi.

            Catatan: Sikap berkerahiman ini tidak mudah untuk dipraktekkan. Karena kita membuka diri juga kepada mereka yang salah. Maka orang-orang sering menjadi tidak tahan terhadap anda, dan mengganggap anda konyol, tidak tegas dan membingungkan. Misalnya sikap Paus Fransikus yang bersikap baik dan membuka diri kepada kaum LGBT.

Hormat terhadap Hidup

            Pernahkah anda berpikir, “mengapa saya ada?”Alam raya sudah berusia 14 milliar tahun, tapi kenapa saya muncul sekali dan tidak akan pernah terulang? Jawabnya: Karena Allah menghendaki. Maka Gereja mengajarkan manusia bukan tuan atas manusia. Dunia harus diatur dengan memikirkan apa yang dikehendaki oleh Pencipta. Maka Gereja mengajarkan kita untuk untuk prolife. Kita tidak pernah menyetujui hal-hal yang merampas kehidupan orang lain: perang, hukuman mati, aborsi, euthanasia, bunuh diri, human trafficking dan lain-lain yang merampas hidup orang lain.

Cinta Musuh

Sejak semula Gereja menyadari bahwa ajaran Yesus melawan naluri.

“Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”(Mat 5:43-44).

Jadi kita mendoakan mereka yang tidak menyukaimu juga. Dan Paulus menegaskan bahwa balas dendam mutlak terlarang.

“Berkatilah siapa yang menganiaya kamu,berkatilah dan jangan mengutuk! Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.” (Rm 12:17-19)

Selamat melatih diri dalam hidup berkerahiman, menghormati hidup dan mencintai musuh. Dan anda akan menjadi orang katolik yang radikal: berakar dalam Kristus sendiri.

Saudaramu dalam Tuhan,

Fr. Petrus Suroto msc

Exit mobile version