“Learn Strength Through Gentleness”
“Marilah kepada-Ku, kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat… Belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati.”
(Mat. 11:28-29)Umat CIC SYDNEY ytk, Kita sedang hidup di zaman yang aneh. Teknologi makin canggih, tapi hati manusia justru makin rapuh. People are becoming more connected digitally, but more disconnected emotionally.
Sedikit beda pendapat, langsung unfollow.
Sedikit tersinggung, langsung memutus relasi.
Sedikit kecewa, langsung menyimpan dendam.
Sedikit marah, langsung melukai.
Hari-hari ini kita melihat the culture of death perlahan menggantikan the culture of love.
Yang dipelihara bukan kasih, tetapi kebencian.
Yang diwariskan bukan pengampunan, tetapi luka.
Yang dianggap keren bukan kelembutan, tetapi kekerasan.
Padahal Yesus justru menawarkan jalan yang sangat berbeda:
“Discite a Me.”
“Belajarlah dari pada-Ku.”
Menarik sekali…Yesus tidak berkata:
“@Belajarlah bagaimana membuat mukjizat.”
atau
“@Belajarlah menjadi terkenal.
”Tetapi…“
Belajarlah karena Aku lemah lembut (mitis) dan rendah hati (humilis corde).”
Mengapa?
“Karena kelembutan bukan tanda kelemahan.
Gentleness is strength under control.
”Orang yang mudah marah sebenarnya belum tentu kuat.
Orang yang mampu mengendalikan amarahnya, itulah pribadi yang sungguh dewasa.
#Membalas dendam itu mudah. Mengampuni itu jauh lebih sulit.
#Menyakiti orang lain hanya butuh beberapa detik.
Menyembuhkan luka seseorang kadang membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Hari ini dunia sedang kekurangan orang pintar? Tidak.
Yang dunia kekurangan adalah orang yang hatinya lembut:
*Keluarga membutuhkan ayah dan ibu yang lembut.
*Komunitas membutuhkan pemimpin yang lembut.
*Gereja membutuhkan murid-murid Kristus yang lembut.
*Tempat kerja membutuhkan profesional yang tetap manusiawi.
Karena kelembutan memiliki daya yang luar biasa.Ia mampu memadamkan kemarahan.
Ia mampu menyembuhkan luka.
Ia mampu memutus rantai dendam.
Santo Paulus menyebut buah Roh adalah caritas, gaudium, pax, patientia, benignitas…
Kasih selalu berjalan bersama kelembutan.
Umat CIC SYDNEY ytk,
Kalau hari ini kita gampang tersinggung…
gampang menghakimi…
gampang melukai…
mungkin kita sudah terlalu banyak belajar dari media sosial…
dan terlalu sedikit belajar dari Yesus.
Yesus mengundang:
“Come to Me.”
Bukan hanya datang untuk meminta berkat. Tetapi datang untuk belajar memiliki hati seperti hati-Nya.
Karena dunia tidak akan berubah hanya dengan orang-orang hebat.
Dunia berubah ketika semakin banyak orang memiliki Cor Iesu — Hati Yesus.
Maka menjadi murid Kristus bukan sekadar rajin ke gereja.
Tetapi menghadirkan wajah Kristus yang lembut di tengah dunia yang semakin kasar.
❤️Choose kindness when the world chooses revenge.
❤️Choose forgiveness when the world promotes hatred.
❤️Choose mercy when the world celebrates violence.
Itulah revolusi Injil.
Itulah cara Yesus mengubah dunia.
Dan itulah panggilan kita sebagai murid-murid-Nya.
Gaspol for Christ!
💟Salam sukacita & Berkah Dalem✝️
RP. Agustinus Handoko HS MSC
Chaplain to the Indonesian Community
193 Avoca St, Randwick NSW 2031
PO BOX 309, Randwick NSW 2031
Email: hanhanmsc@yahoo.com atau Chaplain@cicsydney.org
