📖 Matius 18:21–35
“Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh tujuh kali.”
(Mat 18:22)
🙏SEJENAK MERENUNG🙏
Umat CIC SYDNEY ytk,
Ada satu hal yang gampang banget diucapkan di gereja tetapi susahnya minta ampun ketika harus dilakukan: MENGAMPUNI!
Kita hafal doa Bapa Kami: “Ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami.” Tetapi begitu ada yang menyakiti kita?
“Sorry ya, gue nggak bisa lupa!”
“Dia sudah keterlaluan!”
“Sekali dia sakiti gue, selesai!”
Unfriend. Block. Delete. Bahkan kalau perlu: revenge!
Welcome to the culture of resentment — budaya sakit hati dan dendam.
Dunia zaman now sering mengajarkan: You hurt me, I hurt you back. Kamu bikin gue kecewa, gue bikin kamu lebih kecewa. Kamu ngomongin gue, gue bongkar keburukanmu. Kamu delete gue, gue block kamu.
Akhirnya hidup berubah menjadi pertandingan: siapa paling jago membalas luka.
Tetapi Yesus hari ini menawarkan jalan yang totally different.
Petrus bertanya: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni? Sampai tujuh kali?”
Mungkin Petrus merasa sudah generous banget. Tetapi jawaban Yesus mengejutkan:
“Bukan tujuh kali, tetapi tujuh puluh tujuh kali.”
Artinya jelas: stop counting!
Kasih tidak punya kalkulator.
Belas kasih tidak sibuk mencatat skor.
Dan seorang murid Kristus tidak boleh hidup dengan buku besar berjudul: “Daftar Orang yang Pernah Menyakiti Gue.”
🌿 PENGAMPUNAN BUKAN BERARTI LUPA🌿
Kadang kita sulit mengampuni karena salah mengerti arti pengampunan.
Mengampuni bukan berarti mengatakan bahwa perbuatan salah itu benar.
Mengampuni bukan membiarkan orang terus menyakiti kita.
Mengampuni juga tidak selalu berarti hubungan harus kembali persis seperti dulu.
Forgiveness is not approving the wound. Forgiveness is refusing to let the wound control your life.
Saya mengampuni bukan karena dia pantas mendapatkannya, tetapi karena saya tidak mau hidup saya terus dikendalikan oleh apa yang dia lakukan.
Dendam membuat orang yang menyakiti kita tetap tinggal rent-free in our heart. Orangnya mungkin sudah tidur nyenyak, sementara kita masih terjaga tengah malam memutar ulang kejadian lima tahun lalu!
Cape deh… 😅
Yesus mau kita bebas.
Forgiveness sets the prisoner free — and sometimes the prisoner is ourselves.
Karena itu pengampunan sebenarnya bukan hanya hadiah bagi orang yang kita ampuni. Pengampunan adalah jalan menuju kebebasan hati kita sendiri.
❤️🩹 MAU SEMBUH ATAU MEMELIHARA LUKA?
Kita memang tidak bisa memilih apakah seseorang akan menyakiti kita atau tidak.
Tetapi kita bisa memilih:
Apakah luka itu akan kita rawat sampai sembuh, atau kita pelihara sampai menjadi dendam?
Luka yang diserahkan kepada Tuhan perlahan dapat menjadi healing.
Tetapi luka yang terus diberi makan dengan kebencian akan berubah menjadi resentment, bitterness, bahkan hatred.
Dan hati-hati: awalnya kita berpikir sedang menghukum orang lain, ternyata kita sendiri yang hidup dalam penjara.
Odium ligat, misericordia liberat.
Kebencian mengikat, belas kasih membebaskan.
Itulah sebabnya Injil hari ini keras. Hamba yang sudah menerima pengampunan luar biasa dari tuannya ternyata tidak mampu memberikan sedikit belas kasih kepada sesamanya.
Yesus seperti sedang berkata:
“You have received mercy. Now become mercy for others.”
Kita semua hidup karena belas kasih Tuhan. Kalau Tuhan memperlakukan kita hanya berdasarkan dosa dan kesalahan kita, siapa yang sanggup berdiri di hadapan-Nya?
Karena kita adalah forgiven sinners, kita dipanggil menjadi forgiving disciples.
🌿 APLIKASI: SIAPA YANG MASIH ADA DI “BLACKLIST”-MU?🌿
Umat CIC SYDNEY ytk,
Hari ini coba jujur.
Masih adakah nama seseorang yang kalau disebut langsung bikin darah naik?
Orang yang sudah kita delete dari HP tetapi ternyata belum kita delete dari daftar dendam di hati?
Suami? Istri? Anak? Orangtua? Saudara? Teman? Mantan kekasih? Rekan pelayanan? Bahkan mungkin sesama umat?
Yesus hari ini tidak bertanya:
“Apakah dia layak kamu ampuni?”
Yesus bertanya:
“Setelah Aku begitu banyak mengampunimu, maukah kamu belajar mengampuni?”
Maybe kita belum mampu berkata, “Tuhan, aku sudah mengampuni.”
Tidak apa-apa. Mulailah dengan doa yang lebih jujur:
“Tuhan, aku masih sakit. Aku masih marah. Tetapi aku tidak mau menjadi pendendam. Ajari aku mengampuni.”
That is already a beginning.
Karena pengampunan kadang bukan perasaan sesaat. Forgiveness is a decision, a process, and a grace.
🙏 DOA🕊️
Tuhan Yesus,
Engkau telah berkali-kali mengampuni kami,
namun kami sering begitu pelit memberikan pengampunan kepada sesama.
Sembuhkan luka yang masih kami simpan.
Lembutkan hati yang telah mengeras karena kecewa.
Bebaskan kami dari keinginan membalas.
Give us the courage to forgive,
the humility to ask forgiveness,
and the grace to live in peace.
Jadikanlah kami bukan pembawa dendam,
tetapi pembawa rekonsiliasi dan damai.
Miserere nobis, Domine, et doce nos dimittere.
Kasihanilah kami, ya Tuhan, dan ajarlah kami mengampuni.
Amin.
🔥 PUNCHLINE TODAY
“Dendam membuat luka tetap hidup. Pengampunan membuat hidup kembali damai.”
You can keep the revenge and lose your peace,
or release the revenge and start your healing.
FORGIVE — NOT BECAUSE THE WOUND WAS SMALL, BUT BECAUSE YOUR PEACE IS TOO PRECIOUS TO LOSE. ❤️🩹
Berani jadi PENGAMPUN,
atau masih betah jadi PENDENDAM? 😎🔥
✝️Salam sukacita & Berkah Dalem💟
🔥 GASPOL FOR CHRIST! 🔥
RP. Agustinus Handoko HS MSC
Chaplain to the Indonesian Community
193 Avoca St, Randwick NSW 2031
PO BOX 309, Randwick NSW 2031
Email: hanhanmsc@yahoo.com atau Chaplain@cicsydney.org
